Breaking News

BRIN: Lebih dari 1,5 Juta Rumah Tangga Petani Bergantung pada Kakao

Ilustrasi Petani Kakao - genkebun.com

Cibinong, GENKEBUN.COM - Kakao menjadi komoditas strategis Indonesia, menopang kehidupan jutaan petani dan menyumbang devisa negara. Namun, sektor ini menghadapi tantangan menurunnya produktivitas dan luas areal kebun.

Produksi kakao nasional menurun signifikan dalam lima tahun terakhir. Luas areal yang ditanami kakao juga menyusut, sementara permintaan dalam negeri meningkat, menimbulkan ketergantungan pada impor meski ekspor produk olahan terus bertumbuh.

Dikutip dari laman BRIN, Minggu (23/11/2025), lebih dari 1,5 juta rumah tangga petani bergantung pada komoditas kakao. Produksi nasional hanya mampu sekitar 100 kg/ha di beberapa wilayah seperti Sulawesi Tengah, jauh di bawah potensi maksimal 2 ton, sedangkan kebutuhan dalam negeri terus naik.

Badan Pusat Statistik mencatat tren penurunan luas areal kakao nasional dari 1,6 juta hektare menjadi sekitar 1,2 juta hektare dalam lima tahun terakhir. Penurunan ini berdampak langsung pada total produksi yang menyusut.

Ekspor olahan kakao meningkat sekitar 8-10% per tahun, tetapi produksi domestik tidak cukup memenuhi permintaan pasar lokal, sehingga impor kakao mentah menjadi alternatif untuk menjaga ketersediaan.

BRIN bersama Cocoa Sustainability Partnership (CSP) fokus membangun sistem perbenihan berbasis varietas unggul untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman kakao, dari hulu hingga petani kecil.

Kebun induk dan distribusi benih unggul diarahkan agar petani memiliki akses terhadap bahan tanam berkualitas, sehingga produksi kakao bisa meningkat mendekati potensi maksimal dan mendukung ketahanan pangan.

Program ini juga melibatkan penerapan teknologi budidaya modern dan Good Agricultural Practices, dengan tujuan meningkatkan hasil produksi per hektare dan kualitas biji kakao nasional.

Pemerintah memandang sektor kakao penting untuk ketahanan pangan, devisa, dan kesejahteraan petani. Sinergi riset dan kebijakan bertujuan menciptakan ekosistem kakao yang inklusif dan kompetitif di pasar global.

Evaluasi dan koordinasi program dilakukan secara berkala, termasuk pembahasan peta jalan pengembangan perbenihan, distribusi varietas unggul, dan integrasi dengan industri hilir.

Data dan program terkait kakao menunjukkan perlunya langkah terpadu antara riset, teknologi, dan kebijakan untuk menjaga keberlanjutan produksi, mendukung ketahanan pangan, serta meningkatkan kontribusi devisa nasional.(*)


Type and hit Enter to search

Close