![]() |
| Haris Fadlulloh Pembudidaya Jamur Tiram di Penaruban, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah. (Foto: genkebun.com/Arsad Ddin) |
Purbalingga, GENKEBUN.COM – Dari pekarangan rumah miliknya, Haris Fadlulloh perlahan membangun usaha jamur tiram yang kini menarik perhatian warga di sekitarnya. Budidaya itu ia mulai pada 2023, setelah beberapa tahun sebelumnya mengenal jamur hanya sebatas bahan konsumsi.
Awalnya kegiatan di pekarangan tersebut tidak ditujukan menjadi usaha. Haris menanam jamur tiram untuk kebutuhan dapur, namun berbagai pertanyaan muncul ketika tamu melihat kondisi kumbung yang rapi di samping rumah.
Minat itu berkembang cepat. Beberapa tetangga mulai membeli, disusul teman dan bakul sayur yang mendengar kabar mengenai budidaya jamur tiram di Penaruban. Tidak ada promosi khusus, hanya pembeli yang datang karena penasaran.
Kumbung yang dikelola Haris berukuran sekitar 12 meter panjang dan 8 meter lebar. Saat ini terdapat kurang lebih 4.000 baglog jamur tiram yang ia rawat setiap hari sebagai bagian dari upaya memperluas produksi.
Seiring bertambahnya jumlah baglog, permintaan pun datang dalam variasi jumlah. Ada warga yang mencari jamur untuk kebutuhan rumah tangga, ada pula pemesan dalam skala lebih besar pada waktu tertentu.
Pada satu kesempatan, Haris menerima permintaan hingga 20 kilogram dalam sehari. Permintaan serupa tidak selalu muncul, namun menjadi tanda bahwa usaha jamur tiram miliknya mulai dikenal lebih luas.
Permintaan lebih besar juga pernah datang dari pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memerlukan suplai sekitar 40 kilogram per hari. Kapasitas tersebut belum dapat ia penuhi karena produksi masih dalam tahap peningkatan.
Untuk memperkuat pemahaman budidaya, Haris mengikuti pelatihan di Balai Pelatihan Kerja dan Transmigrasi (Balakertrans) Klampok. Pelatihan itu menurutnya membantu dalam menata proses kerja di kumbung agar lebih terarah.
![]() |
| Haris Fadlollah Saat Mengikuti Pelatihan Budidaya Jamur Tiram Program dari Balakertrans Klampok. (Foto: genkebun.com/Arsad Ddin) |
Pelatihan tersebut menjadi pengalaman penting bagi Haris. Ia menilai informasi teknis yang disampaikan narasumber cukup membantu mengatasi kendala yang ditemui di lapangan.
“Materinya jelas dan mudah dipahami, jadi saya bisa menyesuaikan perawatan jamur di rumah,” ujar Haris saat ditemui di kumbung jamurnya, Senin (17/11/2025).
Ia mengaku perlu waktu untuk menambah jumlah baglog secara bertahap. Pengelolaan harian menjadi pertimbangan utama agar kondisi kumbung tetap stabil.
“Semua harus dilakukan pelan-pelan supaya saya bisa mengawasi pertumbuhannya,” katanya.
Haris mengatakan bahwa pembeli biasanya datang karena ingin mendapatkan jamur tiram yang dipanen langsung dari kumbung. Faktor kesegaran menjadi alasan banyak warga memilih datang ke rumahnya.
“Kalau panen pagi, biasanya ada yang langsung mengambil karena ingin kondisi jamur yang masih segar,” ucapnya.
Ia menyampaikan bahwa permintaan jamur memiliki pola yang berubah-ubah. Ada hari dengan banyak peminat, ada pula hari yang lebih sepi, tergantung kebutuhan warga di wilayah sekitar.
“Kadang ramai, kadang tidak terlalu banyak, jadi saya hanya menyesuaikan dengan hasil panen,” tuturnya.
Hingga kini, usaha jamur tiram Haris Fadlollah di wilayah Penaruban masih terus dikembangkan. Budidaya berbasis pekarangan tersebut menjadi kegiatan harian yang ia perkuat seiring bertambahnya jumlah baglog yang dimiliki.
Usaha jamur tiram Pak Haris beralamat di Jalan Penaruban Cipawon, Desa Penaruban, RT 1 RW 3, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga. Kontak WhatsApp: 0813-9268-0055.(*)


Social Footer