Breaking News

Strategi Pengendalian Hama Terpadu demi Menjaga Kualitas Biji Kakao dari Serangan Penggerek Buah

 Buah kakao yang terserang hama penggerek (Foto: Distan Buleleng)

Buleleng, GENKEBUN.COM – Tanaman kakao merupakan komoditas penting yang menopang pendapatan perkebunan rakyat namun produktivitasnya kerap terhambat oleh serangan Penggerek Buah Kakao (PBK). Hama ini merusak buah dari dalam sehingga menurunkan hasil dan mutu biji secara signifikan.

Conopomorpha cramerella menjadi penyebab utama kerusakan yang memerlukan perhatian serius dalam pengelolaan kebun. Pemahaman mendalam mengenai biologi hama serta teknik pengendalian yang sesuai menjadi kunci utama bagi para petani kakao di lapangan.

Mengenal Siklus Hidup Hama

Siklus hidup PBK meliputi stadia telur, larva, pupa, hingga menjadi ngengat dewasa. Telur berwarna jingga biasanya diletakkan pada alur kulit buah sehingga sulit terdeteksi oleh pengamat lapang tanpa ketelitian ekstra.

  • Larva merupakan stadia paling merusak karena hidup di dalam buah dan menggerek daging buah kakao.
  • Aktivitas penggerek menyebabkan biji tidak berkembang normal dan menurunkan kualitas mutu hasil panen.
  • Stadia pupa berlangsung di luar buah dan terbungkus kokon transparan pada permukaan buah, daun, atau serasah.
  • Masa pupa berkisar antara 5–8 hari, yang menjadi acuan penting untuk menentukan waktu sanitasi kebun.

Ngengat dewasa aktif pada malam hari dan memiliki mobilitas tinggi dengan kemampuan bertelur mencapai 100 butir. Populasi hama ini dapat meningkat sangat cepat apabila kondisi lingkungan mendukung penyebarannya di area perkebunan.

Identifikasi Gejala dan Dampak

Buah yang terserang menunjukkan gejala belang-belang dan sering kali mengalami proses pemasakan sebelum waktunya. Kondisi ini mengakibatkan biji kakao saling menempel, keriput, serta gagal berkembang sempurna yang berujung pada kerugian ekonomi.

Langkah Pengendalian Terpadu

Pengendalian mekanik dapat diterapkan melalui teknik sarungisasi buah muda untuk mencegah peneluran oleh ngengat. Selain itu, pemetikan buah yang telah terserang harus dilakukan secara rutin guna menekan laju perkembangan hama.

Pendekatan biologis memberikan alternatif ramah lingkungan melalui pemanfaatan semut hitam atau semut angkrang sebagai musuh alami. Penggunaan jamur entomopatogen Beauveria bassiana juga efektif menekan populasi sesuai dengan rekomendasi teknis di lapangan.

Manajemen Pestisida dan Ketahanan

Insektisida kimia berbahan aktif seperti emamectin benzoate atau chlorantraniliprole digunakan sebagai pilihan terakhir jika serangan meluas. Aplikasi ini wajib didasarkan pada hasil monitoring lapangan dengan penyemprotan diarahkan pada area kanopi.

Petani harus menerapkan prinsip 6T dalam penggunaan pestisida untuk mencegah dampak negatif lingkungan dan risiko resistensi hama. Rotasi bahan aktif sangat dianjurkan guna menjaga efektivitas pengendalian dalam jangka panjang.

Teknik sambung samping dengan varietas kakao yang lebih toleran menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan tanaman. Upaya pemantauan rutin oleh petani menjadi penentu utama keberhasilan pengendalian PBK demi menjaga keberlanjutan produksi.(*)

Type and hit Enter to search

Close