Breaking News

Hilirisasi Kopi Jadi Prioritas Akselerasi Ekonomi Kreatif dalam RPJMN 2025–2029

Ilustrasi Biji Kopi - genkebun.com

Jakarta, GENKEBUN.COM – Pemerintah menempatkan hilirisasi kopi sebagai salah satu prioritas akselerasi dalam pembangunan ekonomi kreatif sesuai arah RPJMN 2025–2029. Langkah ini dipaparkan Kemenparekraf dalam sebuah webinar tematik.

Kemenparekraf menilai subsektor kuliner berbasis kopi memiliki potensi besar untuk mendorong peningkatan nilai tambah dan memperluas peluang usaha di berbagai daerah. Data yang disampaikan menunjukkan dinamika positif dalam satu dekade terakhir.

Direktur Pengembangan Sistem Pemasaran dan Hubungan Kelembagaan Kemenparekraf, Radi Manggala, menjelaskan perkembangan tersebut melalui paparan mengenai kontribusi tenaga kerja dan kinerja ekspor ekonomi kreatif.

“Tenaga kerja maupun nilai tambah dalam PDB dan juga nilai ekspor kita hampir doubling dibandingkan pada 2013. Bahkan, capaian tenaga kerja ekonomi kreatif saat ini telah melampaui target 2025,” ujar Radi Manggala, dikutip dari laman BRIN, Jumat (05/12/2025).

Ia melanjutkan dengan menegaskan bahwa program kementerian memberi porsi besar untuk percepatan penguatan sektor hilir kopi agar lebih kompetitif dalam menghadapi pasar global. Radi menyebut akselerasi ini menjadi fokus pembangunan.

“Delapan puluh persen dari program kami akan lebih fokus pada akselerasi dan percepatan-percepatan supaya usaha, terutama yang hilir dari kopi ini, lebih cepat dan bisa berdaya saing lebih baik,” ujarnya.

Kemenparekraf juga menyiapkan Asta Ekraf sebagai delapan klaster pengembangan ekonomi kreatif yang berfungsi memperkuat fondasi data, talenta, infrastruktur, dan pembiayaan. Radi menegaskan penerapannya berlaku bagi berbagai subsektor.

“Asta Ekraf ini berlaku bagi semua subsektor termasuk kuliner dan khususnya kopi,” lanjutnya.

Selain menawarkan skema kolaborasi yang lebih luas, kementerian memasukkan lembaga keuangan ke dalam kerangka kerja hexa helix. Tujuannya membuka akses permodalan sekaligus perluasan pembiayaan bagi pelaku kopi olahan.

“Kami tambahkan lembaga keuangan sebagai akses pemodalan maupun pendanaan dan pembiayaan,” tambahnya.

Dalam pemaparannya, Radi turut menyinggung peluang besar yang ditawarkan pasar kopi global. Nilai pasar yang meningkat dinilai membuka ruang pertumbuhan baru bagi pelaku industri kopi nasional di berbagai segmen kuliner.

“Artinya, peluang bisnis kopi sebagai bisnis kuliner sangat besar sekali,” ujarnta.

Ia juga menilai strategi pemasaran kopi nasional masih terpencar sehingga diperlukan identitas branding yang lebih terstruktur. Kementerian sedang menyusun identitas pemasaran untuk menyatukan arah promosi.

“Mayoritas masih scatter dan belum dalam satu branding yang sama,” ujar Radi.

Radi menyampaikan bahwa upaya penguatan branding dilakukan melalui penyusunan identitas pemasaran nasional yang nantinya dapat digunakan pelaku kreatif berbasis kopi.

“Branding-nya sedang kami susun sehingga nanti bisa diaplikasikan untuk produk-produk kreatif khususnya kopi juga,” Radi melanjutkan.

Pada bagian lain, Kemenparekraf membuka dukungan bagi pelaku kopi olahan yang ingin memperluas jangkauan promosi. Radi menyampaikan peluang pemanfaatan kanal Creative by Indonesia.

“Kalau kopinya sudah jadi produk kuliner, bisa disampaikan ke kami untuk kami bantu promosikan di website dan medsos Creative by Indonesia,” ujar Radi.(*)


Type and hit Enter to search

Close