![]() |
| Direktorat Jenderal Perkebunan melaksanakan peninjauan langsung produktivitas lahan kakao rakyat di wilayah Sulawesi Selatan pada Jumat (06/03/2026). |
Sulawesi, GENKEBUN.COM – Produksi kakao Indonesia diproyeksi mencapai 635 ribu ton pada 2026 dengan Sulawesi sebagai penopang utama. Kenaikan ini didorong perluasan areal tanam hingga 1,38 juta hektare guna memenuhi permintaan pasar global.
Pertumbuhan positif terlihat dari data statistik yang menunjukkan pemulihan volume panen. Setelah mencatat angka 617 ribu ton pada 2024, sektor perkebunan nasional kini bersiap menghadapi lonjakan produktivitas melalui berbagai program penguatan hulu.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa keberhasilan sektor ini sangat bergantung pada peran petani kecil. Beliau memberikan penekanan khusus pada pentingnya peremajaan tanaman serta penggunaan benih unggul di lapangan.
“Pekebun adalah kunci. Hampir seluruh kebun kakao kita dikelola rakyat. Karena itu, peningkatan produktivitas melalui peremajaan, penggunaan benih unggul, dan pendampingan intensif harus menjadi prioritas. Kita tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah, tetapi harus memperkuat hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri,” ujar Mentan Amran, dikutip dari laman BBPP Ketindan, Jumat (06/03/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Abdul Roni Angkat, memaparkan korelasi antara harga domestik dan pasar internasional. Beliau melihat situasi pasar saat ini sebagai momentum emas bagi peningkatan kesejahteraan seluruh pekebun.
“Perkembangan harga kakao domestik tahun 2025 bergerak mengikuti tren harga global yang mengalami penguatan signifikan. Ini menjadi peluang besar bagi pekebun untuk meningkatkan pendapatan. Karena itu, kami mendorong peningkatan kualitas, terutama fermentasi, agar harga di tingkat pekebun bisa optimal,” ujarnya.
Data menunjukkan bahwa 99 persen lahan kakao merupakan Perkebunan Rakyat (PR). Struktur kepemilikan ini melibatkan sekitar 1,50 juta kepala keluarga yang tersebar di berbagai wilayah sentra produksi utama dari Sabang sampai Merauke.
Sulawesi menyumbang 60 persen produksi atau 378 ribu ton.
Sumatera berkontribusi sebesar 164 ribu ton melalui Lampung dan Sumatera Utara.
Nilai ekspor tahun 2024 menembus angka US$ 2,65 miliar.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya mempercepat transformasi sektor kakao agar berbasis pada industri pengolahan. Langkah ini mencakup produksi biji fermentasi, lemak kakao, hingga produk cokelat siap konsumsi bagi pasar ekspor.
“Dengan perbaikan produktivitas dan kualitas, kita tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen, tetapi juga sebagai pemain penting dalam rantai pasok kakao olahan dunia. Hilirisasi adalah strategi untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan daya saing, dan memastikan kesejahteraan pekebun,” tuturnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor mencapai 348 ribu ton pada 2024. Negara tujuan utama mencakup kawasan Asia, Eropa, dan Amerika yang memiliki standar kualitas tinggi terhadap produk biji kakao.
Luas areal yang mencapai 1,38 juta hektare pada 2026 menjadi modal kuat ekonomi daerah. Fokus pada wilayah timur Indonesia memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan cokelat di dalam negeri.(*)

Social Footer