![]() |
| Direktorat Jenderal Perkebunan memimpin koordinasi pengembangan kawasan kakao rakyat di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu (18/02/2026). |
Sulawesi, GENKEBUN.COM – Kinerja produksi kakao nasional menunjukkan tren positif dengan proyeksi kenaikan signifikan mencapai 635 ribu ton pada 2026 mendatang melalui pemanfaatan luas areal perkebunan yang kini mencapai 1,38 juta hektare.
Data Statistik Perkebunan mencatat kenaikan ini menjadi momentum krusial bagi Indonesia. Lonjakan produksi terjadi di tengah penguatan harga global serta peningkatan permintaan pasar internasional terhadap komoditas cokelat yang berasal dari tanah air.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah memacu produktivitas lahan milik rakyat. Beliau menilai peran pekebun mandiri sangat krusial bagi masa depan industri kakao nasional.
“Pekebun adalah kunci. Hampir seluruh kebun kakao kita dikelola rakyat. Karena itu, peningkatan produktivitas melalui peremajaan, penggunaan benih unggul, dan pendampingan intensif harus menjadi prioritas. Kita tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah, tetapi harus memperkuat hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri,” ujar Mentan Amran, dikutip dari laman Kementan, Kamis (19/02/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Abdul Roni Angkat, menjelaskan bahwa kenaikan harga domestik sepanjang tahun 2025 merupakan dampak positif dari penguatan harga biji fermentasi yang terjadi pada pasar internasional secara global.
“Perkembangan harga kakao domestik tahun 2025 bergerak mengikuti tren harga global yang mengalami penguatan signifikan. Ini menjadi peluang besar bagi pekebun untuk meningkatkan pendapatan. Karena itu, kami mendorong peningkatan kualitas, terutama fermentasi, agar harga di tingkat pekebun bisa optimal,” ujarnya.
Sejauh ini, struktur kepemilikan lahan kakao di Indonesia didominasi sepenuhnya oleh masyarakat lokal. Tercatat sekitar 1,50 juta kepala keluarga menggantungkan hidup pada sektor ini dengan rincian kontribusi wilayah sebagai berikut:
Sulawesi: Menyumbang lebih dari 60 persen atau 378 ribu ton.
Sumatera: Berkontribusi sebesar 164 ribu ton, terutama dari Lampung.
Ekspor: Mencapai nilai US$ 2,65 miliar pada periode tahun 2024.
Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Ditjenbun mencatat volume ekspor telah menyentuh angka 348 ribu ton. Performa perdagangan ini membuktikan posisi Indonesia tetap kompetitif di pasar kawasan Asia, Eropa, hingga Benua Amerika.
Abdul Roni Angkat menambahkan bahwa transformasi sektor ini harus berbasis pada penguatan industri pengolahan. Langkah tersebut mencakup produksi cocoa liquor, cocoa butter, hingga produk cokelat jadi untuk menjaga stabilitas ekonomi hulu.
“Dengan perbaikan produktivitas dan kualitas, kita tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen, tetapi juga sebagai pemain penting dalam rantai pasok kakao olahan dunia. Hilirisasi adalah strategi untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan daya saing, dan memastikan kesejahteraan pekebun,” ujarnya.
Data luas areal yang mencapai 1,38 juta hektare pada 2026 memberikan fondasi kuat bagi penguatan ekonomi daerah. Wilayah timur Indonesia tetap memegang peranan strategis dalam menjaga volume ketersediaan stok nasional.
Stabilitas produksi dan perbaikan kualitas biji hasil panen menjadi faktor penentu daya saing global. Indonesia kini memfokuskan seluruh sumber daya hulu untuk memastikan posisi sebagai pemain utama dalam rantai pasok dunia.(*)

Social Footer