Breaking News

Produksi Benih Kakao Nasional Meledak Jadi 200 Juta Biji, Efek Instan Deregulasi Kementan

Perkebunan Kakao. (Foto: Ditjenbun)

Jakarta, GENKEBUN.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatatkan lonjakan signifikan pada ketersediaan benih kakao nasional hingga mencapai 200 juta biji. Capaian ini merupakan hasil nyata dari strategi deregulasi dan percepatan layanan perbenihan yang dijalankan pemerintah.

Data menunjukkan kenaikan tersebut sangat kontras dibandingkan periode sebelumnya yang hanya menyentuh angka 36 juta biji. Langkah cepat ini dinilai mampu memperkuat fondasi pembangunan perkebunan nasional melalui penyediaan benih bermutu secara masif.

Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat menjelaskan bahwa pembenahan regulasi bertujuan menciptakan sistem yang lebih transparan bagi pelaku usaha. Hal ini menjadi kunci dalam mendongkrak daya saing komoditas perkebunan Indonesia.

“Benih adalah kunci utama peningkatan produktivitas dan daya saing perkebunan. Karena itu, kami terus melakukan pembenahan regulasi dan pelayanan agar penetapan kebun sumber benih mudah, transparan, dan dapat diakses oleh pelaku usaha serta masyarakat,” ujar Abdul Roni Angkat, dikutip dari laman Kementan RI, Kamis (08/01/2026).

Loncatan Ketersediaan Benih

Percepatan penyediaan benih ini juga mencakup komoditas strategis lainnya yang menjadi andalan pekebun di berbagai daerah. Selain kakao, ketersediaan benih kelapa di tanah air dilaporkan meningkat pesat dari 9 juta menjadi 23 juta butir.

Kebijakan deregulasi ini menciptakan ekosistem perbenihan yang inklusif serta mendorong partisipasi aktif masyarakat luas. Pemerintah memastikan bahwa meskipun proses pelayanan berjalan lebih cepat, standar mutu benih tetap terjaga dengan pengawasan ketat.

Ketua Umum Himpunan Produsen Benih Perkebunan dan Kehutanan Indonesia (HPBPHI), Masrizal Batubara menyatakan bahwa proses administrasi kini jauh lebih efisien. Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang sigap menerjunkan tim ahli untuk melakukan evaluasi lapangan.

“Kementan secara serius melakukan deregulasi, mulai dari perbaikan aturan penetapan kebun sumber benih, hingga aksi yang masif untuk mendapatkan pohon-pohon induk terpilih. Proses layanan usulan kebun sumber benih kini sangat cepat dan efisien. Dalam waktu satu bulan, surat permohonan sudah dipenuhi dan para pemulia langsung diturunkan untuk melakukan evaluasi,” ujarnya.

Dampak bagi Kesejahteraan Pekebun

Sistem baru ini efektif mencegah terjadinya praktik monopoli penguasaan benih sumber oleh pihak-pihak tertentu. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi penetapan kebun dari hasil inovasi masyarakat guna meningkatkan aksesibilitas bagi para pekebun.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa kemudahan mendapatkan benih unggul akan berdampak langsung pada kenaikan pendapatan masyarakat. Deregulasi sengaja dilakukan untuk memangkas berbagai hambatan birokrasi yang menghalangi ruang inovasi di sektor perkebunan.

“Kami ingin memastikan pekebun mendapatkan benih unggul dengan mudah, cepat, and terjangkau. Deregulasi kami lakukan untuk memangkas hambatan, mempercepat layanan, dan membuka ruang inovasi. Dengan benih berkualitas, produktivitas meningkat, pendapatan pekebun naik, dan perkebunan Indonesia semakin berdaya saing,” tegas Mentan Andi Amran Sulaiman.

Data Pertumbuhan Benih Perkebunan:
  • Benih Kakao: Meningkat tajam dari 36 juta menjadi 200 juta biji.
  • Benih Kelapa: Melonjak dari 9 juta menjadi 23 juta butir.
  • Waktu Layanan: Penetapan kebun sumber kini tuntas dalam satu bulan.
Pakar pemuliaan kakao dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rubiyo menilai perbaikan sistem ini berjalan efektif. Menurutnya, kepemimpinan saat ini berhasil memperluas akses pekebun terhadap bibit berkualitas melalui inovasi sistem yang lebih terbuka.(*)

-----

Temukan kami di Google - Informasi dan berita perkebunan tersedia secara lengkap di Google, selengkapnya disini: https://www.google.com/genkebun.

Penulis: Musyafana
Editor: Arsad Ddin


Type and hit Enter to search

Close