Breaking News

Kejar Swasembada Gula, Kementan Genjot Bongkar Ratoon 94 Ribu Hektare Tahun InI

Kegiatan Tanam Perdana Bongkar Ratoon di Bantul, (22/10/2025). (Foto : Ditjenbun)

Aceh Jaya, GENKEBUN.COM - Kementerian Pertanian (Kementan) memulai akselerasi pengembangan kawasan tebu nasional melalui agenda tanam bersama di Desa Mulyoharjo, Kabupaten Pati (22/10/2025), sebagai langkah strategis mengejar target swasembada gula nasional secara terukur.

Program nasional tahun 2025 mengalokasikan lahan seluas 100.453 hektare untuk komoditas tebu. Luasan tersebut mencakup perluasan lahan baru sebesar 5.528 hektare serta optimalisasi melalui skema bongkar ratoon seluas 94.925 hektare.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Heru Tri Widarto, menjelaskan bahwa keberhasilan agenda besar ini sepenuhnya bertumpu pada kedisiplinan jajaran di lapangan dalam mematuhi seluruh jadwal teknis yang telah ditetapkan.

“Drop benih, olah tanah, dan tanam itu fase yang tidak boleh bergeser. Kalau kita longgar seminggu saja, produktivitas ikut turun. Karena itu seluruh jajaran—dinas, penyuluh, pemerintah kecamatan, desa, sampai kemitraan dengan pabrik gula harus bekerja tanpa jeda,” ujar Heru Tri Widarto, dikutip dari laman Kementan, Senin (12/01/2026).

Pemerintah membagi target pengerjaan dalam dua fase tahunan. Setelah alokasi besar pada 2025, pengerjaan berlanjut pada tahun 2026 dengan sasaran lahan seluas 99.547 hektare guna memastikan kesinambungan produksi bahan baku gula.

Provinsi Jawa Tengah mendapatkan alokasi pengembangan mandiri seluas 12.076 hektare. Dari jumlah tersebut, Kabupaten Pati memegang peran vital dengan target pengerjaan kawasan mencapai 3.190 hektare yang saat ini mulai memasuki fase tanam.

Keunggulan Varietas dan Dukungan Hilirisasi

Heru menambahkan bahwa pengawasan ketat dilakukan agar bantuan pemerintah tepat sasaran. Fokus utama bukan sekadar perluasan lahan, melainkan kualitas sarana produksi yang diterima langsung oleh para kelompok tani di daerah.

“Kita tidak hanya menanam tebu. Kita memastikan pekebun mendapatkan benih yang benar, dukungan operasional yang cukup, dan kepastian kemitraan. Tanpa itu, produksi naik tetapi masalah hilir tetap muncul. Kami tidak ingin itu terjadi,” tegas Heru.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengingatkan bahwa keberhasilan di sektor hulu harus diikuti dengan perbaikan sistem pengolahan. Integrasi antara petani dan industri menjadi syarat mutlak keberhasilan swasembada.

“Kalau hilirisasi tidak diperbaiki, peningkatan produksi tidak akan membawa Indonesia ke swasembada yang permanen. Industri gula harus terintegrasi dari hulu sampai hilir, modern, efisien, dan menghasilkan nilai tambah yang kembali ke petani dan negara,” kata Mentan Amran.

Guna mendukung produktivitas, pemerintah menyalurkan benih varietas Bulu Lawang dan PSJT. Kedua varietas ini dipilih karena daya tahan yang kuat serta potensi produktivitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasokan pabrik gula.
  • Varietas Bulu Lawang: Potensi hasil 94,3 ton/ha, rendemen 7,51%.
  • Target Pati: Pengembangan lahan seluas 3.190 hektare.
  • Fokus Kerja: Distribusi benih, pengolahan lahan, dan kemitraan pabrik.
Langkah percepatan di Kabupaten Pati ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Selain mengejar target produksi, program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan pekebun melalui model industri yang lebih kompetitif.(*) 

-----
Penulis: Megga Arifani
Editor: Nuha Nur Rifa

Temukan kami di Google - Informasi dan berita perkebunan tersedia secara lengkap di Google, disini: www.google.com/genkebun.com.

Type and hit Enter to search

Close