Pengiriman perdana ini menjadi tonggak sejarah setelah proses negosiasi selama dua tahun. Kini, produk durian asal Jawa Barat dan Sulawesi Tengah dapat langsung masuk ke Pelabuhan Qingdao melalui Tanjung Priok.
Kepala Barantin, Sahat M. Panggabean, menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja keras dalam menyediakan sumber daya serta memenuhi standar protokol karantina yang ketat antara Indonesia dan otoritas Tiongkok.
“Ini adalah realisasi ekspor perdana durian beku ke Tiongkok, yang merupakan wujud dari rangkaian proses panjang yang memakan waktu yang cukup lama dan membutuhkan penyediaan sumber daya yang tidak sedikit,” ujar Sahat M. Panggabean, dikutip dari laman Barantin, Senin (12/01/2026).
Langkah ini memberikan efisiensi biaya logistik yang signifikan bagi para pelaku usaha. Pengiriman langsung memangkas biaya ekspedisi sekitar USD 8.000 per kontainer dibandingkan harus melalui negara perantara seperti Thailand.
Standar Teknis dan Potensi Ekonomi
Pasar Tiongkok mewakili nilai permintaan durian sebesar Rp128 triliun per tahun. Indonesia mengandalkan varietas unggulan seperti Bawor, Super Tembaga, dan Namlung untuk merebut sekitar 5 hingga 10 persen pangsa pasar global.
Persyaratan ekspor mewajibkan durian diproses melalui metode quick freezing pada suhu -30°C. Produk dalam bentuk buah utuh, daging buah (pulp), maupun pasta (puree) harus dipastikan bebas dari cemaran kimia.
Sahat juga mengingatkan bahwa keberlanjutan ekspor ini membutuhkan sinergi kuat antarlembaga. Fokus utama pemerintah adalah membangun ekosistem hilirisasi yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi secara luas bagi seluruh petani lokal.
“Saya ingin menekankan pentingnya memelihara semangat bekerja sama di antara kita. Barantin tidak dapat bekerja sendiri dalam mewujudkan hilirisasi, pun juga semua kementerian dan lembaga terkait tanpa kecuali. Kita semua wajib mengedepankan kolaborasi dan harmonisasi demi terwujudnya nilai tambah ekonomi yang dapat membawa kesejahteraan bagi para petani kita khususnya petani durian Indonesia,” pungkasnya.
Data sertifikasi Barantin mencatat beberapa fakta penting mengenai peta ekspor durian Indonesia sepanjang tahun 2025:
- Total Volume: 10.162 ton durian berhasil diekspor ke mancanegara.
- Negara Tujuan Utama: Thailand (6.003 ton), Tiongkok (2.574 ton), dan Malaysia (1.532 ton).
- Fasilitas Terdaftar: 8 rumah pengemasan telah teregistrasi resmi di sistem GACC Tiongkok.
Saat ini, tujuh rumah pengemasan berada di Sulawesi Tengah dan satu unit di Bogor. Semua fasilitas tersebut berfungsi sebagai Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT) untuk menjamin kesehatan buah sebelum dikirim.
Harga durian di pasar Tiongkok tercatat mencapai 5 hingga 7 kali lipat lebih tinggi daripada harga lokal. Hal ini menjadi peluang besar bagi eksportir untuk meningkatkan devisa negara secara permanen.(*)
-----
Temukan kami di Google - Informasi dan berita perkebunan tersedia secara lengkap di Google, disini: www.google.com/genkebun.com.

Social Footer