Langkah distribusi benih ini merupakan bagian dari program pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis komoditas perkebunan di wilayah Pegunungan Arfak. Kopi Arabika memiliki potensi pasar yang sangat luas serta nilai jual ekonomi tinggi bagi masyarakat.
Dilansir dari laman BRMP, Minggu (05/04/2026), penyaluran bantuan mencakup 10.000 benih kopi Arabika siap tanam yang ditujukan bagi kelompok tani di Kampung Udohotma guna memperluas luasan lahan budidaya kopi di Provinsi Papua Barat.
Pemerintah melakukan pemetaan wilayah yang memiliki ketinggian lahan di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kriteria geografis tersebut sangat cocok untuk pertumbuhan optimal pohon kopi jenis Arabika agar menghasilkan citarasa premium.
Penyaluran total 10.000 benih kopi Arabika.
Lokasi fokus bantuan berada di Kampung Udohotma.
Target peningkatan ekonomi melalui sektor perkebunan rakyat.
Penyediaan benih unggul bertujuan mengganti tanaman kopi tua yang produktivitasnya mulai menurun secara signifikan. Selain penyediaan bibit, teknis penanaman yang baik juga menjadi perhatian utama agar kelangsungan hidup tanaman berada pada persentase tinggi.
Petugas penyuluh lapangan melakukan pendampingan intensif mengenai cara pembuatan lubang tanam serta pemberian pupuk organik dasar. Penggunaan pupuk organik membantu menjaga struktur tanah di wilayah pegunungan agar tetap subur dan tidak mudah tergerus erosi.
Kopi asal Pegunungan Arfak memiliki karakteristik rasa unik yang sudah dikenal oleh para pelaku industri kopi nasional. Peningkatan volume produksi melalui bantuan benih ini akan membantu memenuhi permintaan pasar yang mengalami kenaikan setiap tahun.
Benih kopi Arabika berasal dari indukan bersertifikat.
Pendampingan teknis dilakukan oleh tenaga ahli perkebunan.
Pemantauan pertumbuhan dilakukan secara berkala setiap bulan.
Proses pengiriman benih menuju Kampung Udohotma melewati jalur transportasi darat dengan pengawasan ketat guna menjaga kesegaran bibit. Kelancaran distribusi sangat bergantung pada kondisi cuaca serta kesiapan infrastruktur jalan di wilayah pegunungan yang menantang.
Pemerintah daerah memberikan fasilitas peralatan pengolahan pascapanen setelah tanaman memasuki masa produksi pertama. Integrasi antara penyediaan benih dan alat pengolahan menjadi kunci utama dalam meningkatkan nilai tambah produk kopi bagi petani lokal di pedesaan.
Data luasan lahan perkebunan menunjukkan potensi pengembangan kopi di Papua Barat masih sangat terbuka lebar. Evaluasi menyeluruh terhadap program penyaluran benih ini dilakukan guna menentukan langkah strategis pengembangan sektor perkebunan pada tahun anggaran mendatang.(*)

Social Footer