Breaking News

Stop Pakai Karung Plastik, Pengemasan Biji Kakao dengan Goni Jadi Kunci Menjaga Mutu Ekspor

Ilustrasi Genkebun.com

Jawa Barat, GENKEBUN.COM – Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) mewajibkan penggunaan karung goni untuk pengemasan biji kakao guna mempertahankan standar mutu internasional serta mencegah kerusakan aroma selama proses pengiriman.

Langkah ini diambil setelah evaluasi mendalam menunjukkan bahwa kemasan plastik menyebabkan kelembapan tinggi yang memicu pertumbuhan jamur pada biji. Standar baru ini menjadi syarat mutlak bagi eksportir yang menyasar pasar Eropa.

Dilansir dari laman bppsdmp, Sabtu (28/03/2026), penggunaan karung goni mampu menjaga kadar air biji kakao tetap berada pada angka stabil di bawah 7,5 persen selama perjalanan jauh di dalam kontainer pengiriman internasional.

Kandungan lemak cokelat sangat sensitif terhadap perubahan suhu ekstrem di laut. Material serat alami goni memungkinkan terjadinya sirkulasi udara yang baik sehingga risiko bau tengik dapat diminimalisir secara signifikan dibandingkan plastik.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui direktorat terkait mendorong para petani untuk meninggalkan kebiasaan lama menggunakan karung bekas pupuk atau beras. Pengemasan yang tidak tepat terbukti menurunkan harga tawar produk di pasar global.

Berikut adalah beberapa keunggulan teknis penggunaan serat alami goni dalam industri cokelat:

  • Memiliki daya serap kelembapan yang tinggi terhadap kondensasi udara.

  • Mencegah kontaminasi residu kimia polimer yang terdapat pada material plastik.

  • Menjaga profil aroma asli biji kakao tetap murni hingga ke pabrik pengolahan.

Para penyuluh pertanian lapangan aktif memberikan bimbingan teknis mengenai tata cara penjahitan karung yang benar. Kerapian pengemasan juga menjadi nilai tambah estetika saat produk sampai ke tangan pembeli atau kolektor mancanegara.

Selain faktor mutu, penggunaan goni mendukung kampanye kelestarian lingkungan hidup karena materialnya mudah terurai kembali ke tanah. Industri cokelat dunia kini sangat mengutamakan aspek keberlanjutan pada seluruh rantai pasokan bahan baku.

Standardisasi ini juga mencakup penggunaan label yang mencantumkan identitas asal kebun secara jelas pada permukaan karung. Informasi ketertelusuran merupakan syarat utama agar produk dapat menembus pasar cokelat premium yang memiliki harga tinggi.

Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) melaporkan bahwa penolakan barang di pelabuhan tujuan berkurang drastis sejak kebijakan ini diterapkan. Keamanan pangan menjadi fokus utama bagi setiap pelaku usaha yang bergerak di bidang ekspor perkebunan.

Rantai nilai ekonomi komoditas ini sangat bergantung pada integritas kualitas fisik biji sejak keluar dari gudang petani. Beberapa syarat teknis pengemasan ekspor meliputi:

  • Penggunaan karung baru yang bebas dari bau minyak bumi.

  • Berat bersih setiap kemasan diatur maksimal enam puluh kilogram.

  • Penyimpanan di atas palet kayu untuk menghindari kontak langsung dengan lantai.

Efisiensi biaya logistik tercapai karena karung goni memiliki ketahanan fisik yang kuat terhadap tumpukan tinggi di gudang. Material ini tidak mudah licin sehingga mempermudah petugas saat melakukan bongkar muat barang.

Kebijakan pengemasan ini menjadi pilar penting dalam menjaga reputasi kakao nasional sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Konsistensi menjaga mutu akan berdampak langsung pada kesejahteraan petani melalui perolehan harga jual kompetitif.(*)

Type and hit Enter to search

Close