Langkah inovatif ini diambil untuk menjaga produktivitas komoditas kopi Arabika yang menjadi andalan ekonomi warga setempat. Para petani memanfaatkan bahan baku alami yang tersedia di lingkungan sekitar untuk meracik pupuk sendiri.
Seorang penyuluh pertanian lapangan memberikan penjelasan teknis mengenai efektivitas penggunaan nutrisi cair tersebut bagi tanaman kopi. Penjelasan ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam bagi petani mengenai manfaat ekonomi dan ekologi jangka panjang.
"Ada beberapa keunggulan POC yang disosialisasikan, meliputi Efisiensi Biaya yang akan mampu Menekan biaya produksi hingga 30-40%. Selain itu dengan POC, Kesehatan Tanah akan membaik dengan memperbaiki struktur tanah yang mulai jenuh akibat residu kimia, " ujar penyuluh, dikutip dari laman dairikab, Senin (23/03/2026).
Penerapan teknologi POC ini didampingi oleh organisasi nirlaba internasional Hanns R. Neumann Stiftung (HRNS). Pendampingan mencakup pelatihan pembuatan pupuk dari limbah kulit kopi serta kotoran ternak yang diolah melalui proses fermentasi.
Beberapa komponen utama dalam pembuatan POC di Parbuluan meliputi:
Limbah kulit buah kopi hasil proses pengupasan.
Air cucian beras dan tetes tebu sebagai starter mikroorganisme.
Urin ternak yang kaya akan unsur nitrogen alami.
Proses fermentasi membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu sebelum cairan bisa diaplikasikan ke batang kopi. Metode ini terbukti mampu menjaga daya tahan tanaman terhadap serangan hama penggerek buah kopi yang kerap muncul.
"Kami sangat mengapresiasi langkah HRNS. Inisiatif seperti ini sejalan dengan program pemerintah untuk mendorong penggunaan pupuk organik demi menjaga ekosistem pertanian Dairi tetap produktif dalam jangka panjang," pungkas pejabat Dinas Pertanian setempat.
Penggunaan pupuk organik ini secara otomatis mengurangi ketergantungan petani pada pasokan pupuk subsidi yang jumlahnya terbatas. Data menunjukkan bahwa kualitas biji kopi yang menggunakan nutrisi organik memiliki profil rasa yang lebih konsisten.
Pasar kopi global saat ini memberikan nilai tawar lebih tinggi bagi produk yang menerapkan prinsip keberlanjutan. Petani di Parbuluan mulai membidik sertifikasi organik internasional guna memperluas jangkauan pasar hingga ke Benua Eropa.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi memberikan bantuan peralatan pendukung berupa tong fermentasi skala besar kepada kelompok tani aktif. Fasilitas tersebut diberikan untuk mempercepat produksi pupuk cair secara kolektif di tingkat desa atau kecamatan.
Volume produksi kopi di Kecamatan Parbuluan tercatat mengalami stabilitas meski terjadi kenaikan harga input pertanian kimia di pasar nasional. Keberhasilan ini menjadi rujukan bagi wilayah lain dalam mengimplementasikan kemandirian sektor pemupukan berbasis limbah.(*)

Social Footer