![]() |
| Ilustrasi TBS Sawit. (Foto: BPDP) |
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Hariyadi, dalam orasi ilmiahnya yang digelar pada Sabtu (27/6/2026). Menurutnya, peningkatan produktivitas sebaiknya difokuskan pada intensifikasi lahan yang telah ada.
Prof Hariyadi mengungkapkan bahwa produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat saat ini masih berada di bawah 60 persen dari potensi yang dimiliki. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk meningkatkan hasil produksi.
Saat ini produktivitas perkebunan rakyat masih berada di bawah 60 persen dari potensi yang ada. Perluasan lahan atau ekstensifikasi kurang tepat jika tidak dibarengi dengan kesiapan input seperti pupuk dan benih unggul,” ujar Prof Hariyadi, seperti dilansir dari laman IPB.
Menurutnya, pembukaan lahan baru bukan menjadi pilihan utama apabila dukungan sarana produksi belum memadai. Sebaliknya, optimalisasi lahan yang sudah tersedia dinilai lebih tepat untuk meningkatkan produktivitas.
Dalam upaya tersebut, benih unggul menjadi salah satu komponen penting karena berpengaruh terhadap potensi hasil panen. Selain itu, penggunaan pupuk yang sesuai juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari praktik budidaya.
“Kuncinya adalah benih unggul dan input pupuk yang tepat. Saya lebih mendorong intensifikasi untuk mengoptimalkan potensi yang sudah ada,” kata Prof Hariyadi.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas perlu didukung dengan penerapan good agricultural practices (GAP). Praktik budidaya yang baik menjadi salah satu fondasi dalam mengelola perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan.
Salah satu penerapan GAP dilakukan melalui prinsip "5 Tepat" dalam pemupukan. Prinsip tersebut meliputi ketepatan jenis, dosis, tempat, waktu, dan cara aplikasi pupuk.
Menurut Prof Hariyadi, penerapan prinsip tersebut membantu memastikan tanaman memperoleh unsur hara sesuai kebutuhan. Dengan demikian, produktivitas tanaman dapat dioptimalkan melalui pengelolaan yang lebih baik.
Selain aspek budidaya, Prof Hariyadi juga mengingatkan pentingnya pengembangan ekonomi sirkular di sektor kelapa sawit. Limbah dari kebun maupun pabrik masih memiliki potensi untuk memberikan nilai tambah.
Pelepah, tandan kosong (TKKS), cangkang, serat, hingga limbah cair pabrik (palm oil mill effluent/POME) dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan, pakan ternak, maupun pupuk organik.
Meski demikian, penerapan ekonomi sirkular masih menghadapi sejumlah tantangan. Tingginya investasi awal, keterbatasan teknologi, hambatan logistik, pasar produk turunan yang belum kuat, serta kendala regulasi masih menjadi pekerjaan yang perlu diatasi.
Prof Hariyadi juga menyebut keterbatasan kapasitas pekebun kecil menjadi salah satu tantangan dalam mendorong penerapan ekonomi sirkular. Karena itu, peningkatan produktivitas dan pengelolaan sawit berkelanjutan memerlukan dukungan berbagai aspek secara terpadu.(*)

Social Footer