Kolaka Utara, GENKEBUN.COM – Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI) menyiapkan program pelatihan khusus bernama Cocoa Doctor guna mendongkrak mutu keterampilan petani kakao di Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, melalui forum investasi nasional di Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (11/5/2026).
Langkah strategis tersebut diambil oleh pemerintah pusat untuk memperkuat hilirisasi komoditas perkebunan lokal agar mampu menghasilkan produk olahan siap ekspor yang bernilai tambah tinggi di pasar global.
Dilansir dari laman Pemkab Kolaka Utara, Sabtu (16/05/2026), wilayah Kabupaten Kolaka Utara memiliki potensi kebun kakao seluas 78.966 hektare dengan total volume produksi komoditas utama tersebut mencapai 58.858 ton per tahun.
Tingginya angka produksi perkebunan daerah mendasari pemerintah pusat meluncurkan program peningkatan kompetensi sumber daya manusia pertanian guna menjaga stabilitas pasokan bahan baku bagi sektor manufaktur.
Pelaksanaan program peningkatan keahlian bagi para petani komoditas tersebut diintegrasikan dengan program penunjang lain dari pemerintah pusat, yang meliputi agenda-agenda sebagai berikut:
Pelatihan manajer transformasi industri pada sektor agro.
Penyelenggaraan pendidikan vokasi berbasis industri perkebunan nasional.
Penerapan sistem teknologi digital sektor industri 4.0.
Pemerintah pusat menilai bahwa peningkatan kapasitas pelaku usaha hulu perkebunan akan mempermudah penerapan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) yang mengutamakan kemitraan kuat antara sektor hulu dan sektor hilir.
Langkah pendampingan mutu komoditas perkebunan rakyat menjadi krusial mengingat pemerintah pusat menetapkan target nilai ekspor nasional sektor agro yang cukup tinggi sampai dengan tahun 2029 mendatang.
Adapun rincian target pencapaian nilai ekspor komoditas perkebunan nasional hingga tahun 2029 dipatok pada angka-angka berikut:
Ekspor produk kakao dipatok mencapai USD 3,57 miliar.
Ekspor produk kelapa dipatok mencapai USD 3,50 miliar.
Ekspor produk kopi dipatok mencapai USD 818,5 juta.
Melalui data Kemenperin RI, sebaran perkebunan kakao rakyat berada di hampir seluruh kecamatan dengan konsentrasi paling besar berada di Kecamatan Ngapa, Kecamatan Kodeoha, serta Kecamatan Pakue.
Selain mengandalkan kakao, daerah tersebut memiliki potensi komoditas kelapa seluas 3.906 hektare dengan produksi 4.545 ton di Kecamatan Ranteangin dan komoditas kopi seluas 387 hektare di Kecamatan Porehu.
Secara makro, industri agro nasional mencatatkan pertumbuhan 4,95 persen pada tahun 2025 dengan kontribusi pendapatan mencapai angka 52,09 persen terhadap total industri pengolahan nonmigas.
Sektor industri agro nasional juga berhasil membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD 9,84 miliar pada periode Januari sampai Februari tahun 2026 dengan realisasi investasi Rp40,08 triliun.
Guna mempercepat realisasi investasi pengolahan hasil kebun di daerah, pemerintah pusat turut menawarkan fasilitas fiskal berupa tax holiday, tax allowance, hingga pemberian insentif harga gas bumi tertentu.(*)

Social Footer