Breaking News

Sulap Botol Saus Bekas Jadi Wadah Bibit Anggrek, Inovasi Hemat Biaya di Laboratorium DTPHP

 

(Foto: ppid- Genkebun.com)

Jember, GENKEBUN.COM – Chandra, seorang laboran di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP), sukses mengembangkan bibit anggrek bernilai ekonomi tinggi dengan memanfaatkan botol saus bekas sebagai wadah semai di laboratorium.

Langkah efisiensi tersebut terbukti mampu menekan biaya produksi secara signifikan tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan bibit, sehingga menghasilkan produk hortikultura kompetitif yang sangat diminati oleh komunitas pecinta tanaman hias.

Chandra menjelaskan pola kemitraan unik yang dijalin bersama pelanggan tetap, di mana pihak luar dapat menitipkan biji untuk diproses menjadi bibit siap tanam melalui metode kultur jaringan yang terukur.

"Dia (Mas Habibi) kan ngasih biji, bijinya itu ditebarkan di sini. Nah nanti dia hasil tebarannya kita dibeli dia satu botol. Dia nyerahkan biji, dia pesen sebanyak berapapun yang ada di sini yang punya dia, buahnya dia, mau dibeli gitu," ujar Chandra, dikutip dari laman ppid, Kamis (02/04/2026).

Meskipun model bisnis ini terlihat sederhana, proses dari penyemaian biji hingga bibit layak dipasarkan memerlukan ketelatenan tingkat tinggi karena adanya perbedaan durasi pertumbuhan pada setiap jenis tanaman yang dibudidayakan.

“"Kalau dari biji sampai itu mungkin sembilan bulan baru bisa keluar dari botol. Tergantung dari medianya sama bibit tanamannya, ada kadang-kadang yang lambat gitu satu tahun baru bisa keluar," jelas Chandra lebih lanjut mengenai siklus produksi bibit.

Keberhasilan inovasi ini juga didukung oleh penggunaan bahan baku alternatif yang diperoleh dari tempat penampungan barang bekas dengan harga terjangkau, kemudian disterilisasi secara menyeluruh sebelum digunakan sebagai media tanam.

Berikut adalah beberapa data teknis dan fakta ekonomi terkait pengembangan bibit anggrek botolan yang dilakukan di Laboratorium Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan tersebut:

  • Harga bibit berkisar antara Rp40.000 hingga Rp50.000 per botol.

  • Pemanfaatan botol saus bekas yang dibeli dari pengepul barang rongsokan.

  • Durasi masa tanam mencapai sembilan bulan hingga satu tahun kalender.

  • Sasaran pasar utama meliputi komunitas hobi dan institusi pendidikan formal.

Pola pemasaran produk bibit anggrek ini telah memiliki pangsa pasar yang stabil, mencakup kerja sama rutin dengan sekolah menengah kejuruan guna mendukung pemenuhan kebutuhan alat praktik pendidikan bagi para siswa.

"Dijual kita biasanya ada yang SMK-SMK itu kan pesen botolan untuk ujian untuk praktek ngambil ke sini," ungkap laboran tersebut saat memaparkan rincian distribusi hasil produksi laboratorium kepada pihak eksternal secara luas.

Saat ini, ketersediaan pasokan bibit dalam botol tersebut menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi kreatif di Jember, khususnya bagi pengembangan sektor hortikultura yang berbasis pada kemandirian bahan baku lokal berkelanjutan.

Sinergi antara pemanfaatan limbah kaca dan keahlian teknis laboratorium ini menghasilkan margin keuntungan sehat, sekaligus memberikan solusi praktis bagi ketersediaan bibit berkualitas bagi para pelaku usaha tanaman hias di Indonesia.

Type and hit Enter to search

Close