Breaking News

Kementan Gandeng 61 Gapoktan di Wonosobo Guna Masifkan Budidaya Kelapa Skala Industri

(Foto:ditjenbun)

Wonosobo, GENKEBUN.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) merangkul 61 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kabupaten Wonosobo untuk memperluas budidaya kelapa skala industri melalui penyediaan bibit unggul serta pendampingan teknologi pengolahan pada Selasa (07/04/2026).

Langkah kolaboratif ini bertujuan meningkatkan volume produksi kelapa nasional guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri manufaktur pangan. Pemerintah daerah memfasilitasi koordinasi teknis agar seluruh petani mendapatkan akses sarana produksi yang memadai.

Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun) menjelaskan pentingnya integrasi antara kegiatan di lahan dengan proses industrialisasi di tingkat perdesaan. Transformasi ini menjadi kunci utama dalam meningkatkan pendapatan ekonomi riil para pekebun kelapa.

“Pengembangan kelapa tidak hanya berhenti pada peningkatan produksi di kebun, tetapi juga harus didorong hingga pengolahan hasil agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi pekebun,” ujar Dirjenbun, dikutip dari laman ditjenbun, Selasa (07/04/2026).

Pemerintah juga memberikan perhatian khusus pada penguatan kelembagaan tani agar memiliki daya tawar tinggi saat berhadapan dengan pasar. Fokus kegiatan mencakup diversifikasi produk turunan yang memiliki nilai jual lebih kompetitif.

“Melalui penguatan kelembagaan pekebun, peningkatan produktivitas kebun, serta pengembangan usaha hilir seperti pengolahan nira menjadi gula kelapa, diharapkan nilai tambah komoditas dapat dinikmati langsung oleh pekebun,” ungkapnya menjelaskan skema program.

Beberapa poin utama dalam pelaksanaan program pengembangan kelapa di Wonosobo tahun ini meliputi:

  • Penyaluran bibit kelapa varietas genjah yang memiliki masa panen lebih cepat.

  • Pembangunan unit pengolahan hasil untuk memproduksi gula semut berkualitas ekspor.

  • Pelatihan manajemen usaha bagi pengurus 61 Gapoktan yang terlibat aktif.

Data luasan lahan perkebunan kelapa di Wonosobo menunjukkan potensi pengembangan yang masih sangat terbuka pada wilayah dataran rendah. Sinergi lintas sektoral menjamin kelancaran distribusi logistik hasil panen menuju pabrik pengolahan.

Pejabat kementerian memberikan apresiasi atas partisipasi aktif masyarakat dalam mengadopsi teknik budidaya modern. Keberhasilan di wilayah ini diproyeksikan menjadi percontohan bagi daerah lain dalam mengelola komoditas perkebunan secara terintegrasi.

“Kegiatan di Wonosobo ini menjadi contoh nyata bagaimana program pemerintah mampu langsung menyentuh petani melalui penguatan budidaya dan hilirisasi produk. Dengan upaya tersebut, komoditas kelapa tidak hanya menjadi sumber bahan baku, tetapi juga menjadi penggerak peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan,” terangnya saat meninjau lokasi.

Kementan menjadwalkan evaluasi rutin terhadap pertumbuhan tanaman serta efektivitas penggunaan alat mesin pertanian (alsintan). Pemantauan ini memastikan seluruh bantuan pemerintah memberikan dampak signifikan bagi produktivitas lahan perkebunan rakyat secara berkelanjutan.

Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan (Dispaperkan) Wonosobo mencatat peningkatan minat pemuda tani untuk terlibat dalam agribisnis kelapa. Stabilitas harga beli nira dan kelapa butiran menjadi faktor pendorong utama keberhasilan program industri ini.(*)

Type and hit Enter to search

Close