Keberhasilan ini dicapai pada musim tanam pertama tahun ini berkat sinergi antara penggunaan varietas hibrida unggul dan pengelolaan air yang tepat. Wilayah yang sebelumnya kering kini bertransformasi menjadi lumbung pangan potensial.
Dilansir dari laman distankp, Rabu (11/03/2026), hasil ubinan menunjukkan rata-rata produktivitas mencapai 4,5 ton per hektar dari total luas lahan garapan yang tersebar di wilayah perbatasan ujung timur Kabupaten Kupang saat ini.
Pencapaian angka tersebut merupakan peningkatan yang sangat signifikan bagi petani lokal dibandingkan dengan hasil panen pada tahun sebelumnya. Transformasi pola tanam tradisional menuju teknik modern menjadi kunci utama keberhasilan di sektor pangan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distankp) memberikan pendampingan teknis secara intensif di lapangan. Para penyuluh lapangan mengajarkan metode pemupukan berimbang guna menjaga tingkat kesuburan tanah tetap optimal.
Berikut adalah beberapa faktor teknis yang menjadi pendukung utama dalam mewujudkan produktivitas jagung yang tinggi di wilayah lahan kering ujung timur Kabupaten Kupang:
Penggunaan benih jagung varietas hibrida yang memiliki ketahanan terhadap cekaman kekeringan serta serangan hama ulat grayak.
Penerapan sistem pengairan tetes berskala kecil untuk memanfaatkan sumber air terbatas dari sumur bor di sekitar lokasi perkebunan.
Pemberian pupuk organik hasil olahan limbah ternak untuk memperbaiki struktur tanah yang berbatu.
Pola tanam yang teratur membantu sirkulasi udara dan masuknya sinar matahari secara merata ke seluruh batang tanaman jagung. Hal ini secara langsung mempercepat proses pengisian biji pada tongkol jagung sehingga berukuran besar.
Kelompok tani di wilayah tersebut mulai mengadopsi sistem pengelolaan lahan tanpa bakar untuk menjaga ekosistem tanah. Praktik ini terbukti mampu menahan kelembapan tanah lebih lama meskipun cuaca di wilayah tersebut sangat terik.
Distankp melakukan monitoring berkala terhadap pertumbuhan tanaman guna mengantisipasi kemungkinan munculnya serangan organisme pengganggu tanaman yang dapat menurunkan kualitas panen. Petani diberikan bantuan berupa alat mesin pertanian untuk mempercepat proses pengolahan lahan.
Keberhasilan panen raya ini juga memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal di wilayah perbatasan. Harga jual jagung di tingkat petani tetap stabil sehingga memberikan keuntungan yang layak bagi seluruh anggota kelompok tani.
Penjadwalan masa tanam yang tepat dengan mengikuti prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Penggunaan mulsa dari sisa tanaman sebelumnya untuk menekan pertumbuhan gulma di sekitar tanaman utama.
Diversifikasi sumber pendapatan petani melalui integrasi tanaman jagung dengan peternakan sapi skala rumah tangga.
Infrastruktur pendukung seperti jalan usaha tani juga mulai dibangun untuk mempermudah mobilisasi hasil panen menuju pasar utama di Kota Kupang. Kelancaran distribusi barang menjadi faktor penentu dalam menjaga kesegaran komoditas jagung.
Program penguatan ketahanan pangan di wilayah ujung timur ini menjadi percontohan bagi daerah lain dengan karakteristik lahan serupa. Keberhasilan produktivitas 4,5 ton per hektar membuktikan bahwa lahan kering tetap mampu menghasilkan pangan berkualitas.(*)

Social Footer