Breaking News

Produksi Jagung NTT 2025 Tembus 305 Ribu Ton, Luas Panen Bertambah 5,70 Ribu Hektare

Ilustrasi Genkebun

Nusa Tenggara Timur, GENKEBUN.COM – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatatkan lonjakan produksi jagung hingga mencapai 305 ribu ton sepanjang tahun 2025 seiring dengan penambahan luas panen secara signifikan di berbagai kabupaten lumbung pangan.

Pencapaian ini didorong oleh optimalisasi pemanfaatan lahan kering serta integrasi program percepatan tanam yang dilakukan secara masif oleh pemerintah daerah. Pertumbuhan sektor pertanian ini memperkuat ketahanan pangan di wilayah kepulauan tersebut secara nyata.

Dilansir dari laman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DISTANKP), Jumat (13/03/2026), total produksi jagung pipilan kering di NTT selama setahun terakhir menyentuh angka 305 ribu ton dengan total luas panen bertambah 5,70 ribu hektare.

Pertambahan luasan lahan panen tersebut tersebar di wilayah daratan Timor, Flores, hingga Sumba yang menjadi sentra utama budidaya jagung. Pola intensifikasi lahan mampu meningkatkan produktivitas per hektare jika dibandingkan dengan capaian pada periode sebelumnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT melakukan distribusi bantuan sarana produksi secara tepat sasaran guna mendukung performa petani di lapangan. Ketersediaan benih varietas unggul yang tahan kekeringan menjadi kunci keberhasilan panen di lahan yang cenderung minim air.

Berikut adalah rincian data mengenai distribusi peningkatan performa komoditas jagung di wilayah Nusa Tenggara Timur yang menjadi dasar penguatan ekonomi berbasis agraris bagi masyarakat lokal di daerah sentra produksi:

  • Luas panen jagung pada periode 2025 tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,70 ribu hektare dibandingkan tahun sebelumnya.

  • Total volume produksi kumulatif dari seluruh kabupaten mencapai angka psikologis baru yakni 305 ribu ton jagung pipilan.

  • Peningkatan produktivitas rata-rata per hektare berkat penggunaan teknologi pemupukan berimbang di tingkat kelompok tani.

Pemanfaatan alat mesin pertanian (Alsintan) mempercepat proses pengolahan tanah hingga masa panen berlangsung lebih efisien. Mekanisasi ini mampu menekan biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh para petani mandiri maupun anggota koperasi tani setempat.

Sinergi antara pemangku kebijakan di tingkat provinsi dan kabupaten mempermudah pengawasan distribusi logistik hasil bumi menuju pasar. Stabilitas harga di tingkat produsen terjaga sehingga memberikan motivasi bagi petani untuk mengelola lahan pertanian secara produktif.

Pengembangan sumur bor di kawasan lahan kering turut memberikan kontribusi terhadap penambahan frekuensi tanam dalam satu tahun. Langkah teknis ini meminimalisir risiko gagal panen akibat anomali cuaca yang sering melanda wilayah NTT bagian timur.

  • Fokus pada kabupaten dengan potensi lahan tidur yang masih luas guna perluasan areal tanam baru.

  • Pendampingan intensif oleh tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dalam penerapan teknik budidaya sehat tanaman jagung.

  • Sinkronisasi data luas tambah tanam secara berkala dengan sistem pelaporan statistik pertanian nasional.

Hilirisasi produk jagung mulai dikembangkan melalui kerja sama dengan industri pakan ternak skala besar di wilayah Jawa dan Sulawesi. Penyerapan hasil panen yang stabil sangat menentukan keberlanjutan minat masyarakat dalam mengembangkan komoditas jagung.

Provinsi NTT kini menjadi salah satu pemasok jagung penting bagi pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional melalui sektor pakan. Keberhasilan menembus angka 305 ribu ton menjadi barometer kemajuan sektor perkebunan dan pangan daerah tersebut.

Evaluasi terhadap kinerja produksi tahun 2025 dilakukan guna menyusun strategi pengelolaan lahan untuk musim tanam mendatang. Data statistik menunjukkan bahwa sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung utama pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Nusa Tenggara Timur.(*)

Type and hit Enter to search

Close