![]() |
| (Foto:DPR RI) |
Jakarta, GENKEBUN.COM – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia mengusulkan penambahan pintu ekspor Crude Palm Oil (CPO) demi menekan biaya logistik nasional yang tinggi saat kunjungan kerja di Sumatera Utara.
Langkah strategis ini bertujuan mengurai kepadatan arus barang di satu titik angkut. Distribusi komoditas kelapa sawit perlu tersebar secara merata guna mengoptimalkan potensi pendapatan negara dari sektor perkebunan unggulan.
Anggota Komisi VI DPR RI memberikan penjelasan mengenai peran strategis infrastruktur pelabuhan di wilayah tersebut. Ia menekankan bahwa fasilitas dermaga yang memadai menjadi faktor penentu kelancaran arus perdagangan internasional.
“Pelabuhan Belawan ini adalah pelabuhan terbesar di luar Pulau Jawa. Yang lebih penting lagi, ini satu-satunya pelabuhan yang memiliki dermaga cair, terutama untuk pengiriman produk-produk kelapa sawit,” ujar Legislator tersebut, dikutip dari laman DPR RI, Selasa (10/03/2026).
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa beban kerja pelabuhan di Medan sangat berat. Legislator tersebut memaparkan persentase kontribusi fasilitas ini terhadap total pengiriman minyak sawit mentah yang keluar dari wilayah kedaulatan Indonesia.
“Sejauh ini, pengiriman CPO dari Pelabuhan Belawan saya kira sudah lebih dari 90 persen dari total pengiriman CPO Indonesia. Artinya, Belawan ini menjadi pelabuhan kunci dan utama untuk produk-produk sawit nasional,” tambahnya dalam forum tersebut.
Pemerintah berencana memperkuat infrastruktur pelabuhan lain agar ketergantungan pada satu lokasi berkurang. Data menunjukkan bahwa efisiensi transportasi dapat meningkatkan kesejahteraan petani sawit di berbagai daerah pelosok melalui perbaikan harga tandan buah segar.
Poin utama dalam pengembangan logistik kelapa sawit nasional mencakup:
Pembangunan terminal curah cair di pelabuhan satelit.
Peningkatan kapasitas tangki timbun di area penyangga.
Integrasi jalur kereta api menuju kawasan industri pengolahan.
Upaya penurunan biaya pengiriman menjadi fokus utama agar daya saing global tetap terjaga. Penataan konektivitas antara perkebunan dan gerbang ekspor baru menjadi agenda mendesak yang segera dibahas dengan pemangku kepentingan terkait.
“Kalau biaya konektivitas bisa lebih murah, maka produk sawit kita akan semakin kompetitif. Ini penting untuk menjaga posisi Indonesia sebagai produsen dan eksportir sawit terbesar dunia,” ucapnya mengakhiri penjelasan teknis tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor CPO Indonesia mencapai jutaan ton per tahun. Penambahan titik gerbang ekspor baru diproyeksikan mampu memangkas waktu tunggu kapal dan mengurangi antrean panjang pengiriman.
Kementerian Perhubungan saat ini sedang melakukan studi kelayakan pada beberapa pelabuhan di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Evaluasi mendalam menyasar kesiapan teknis fasilitas dermaga cair guna mendukung distribusi komoditas andalan secara masif.(*)

Social Footer