Breaking News

Dorong Replanting Lewat Hilirisasi, Pemkab Nunukan Perkuat Ekosistem Kakao di Sebatik

(Foto: Nunukankab- Genkebun.com)

 Sebatik, GENKEBUN.COM – Pemerintah Kabupaten Nunukan memperkuat ekosistem komoditas kakao di Pulau Sebatik melalui pelatihan instalasi mesin pengolahan biji kakao guna mendorong program peremajaan tanaman dan meningkatkan nilai jual petani di perbatasan.

Langkah strategis ini melibatkan kolaborasi antara Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMPP) guna menciptakan sinergi operasional dari hulu hingga hilir.

Dilansir dari laman Nunukankab, Minggu (08/03/2026), kegiatan yang berlangsung di Unit Pengolahan Hasil (UPH) Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Maspul Jaya ini bertujuan mengubah kebiasaan penjualan biji mentah menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi.

Unit Pengolahan Hasil tersebut saat ini menjadi satu-satunya rumah produksi kakao milik pemerintah daerah yang dipersiapkan sebagai motor penggerak hilirisasi bagi para pekebun di wilayah Kecamatan Sebatik Tengah dan sekitarnya.

Para peserta pelatihan yang terdiri dari anggota Gapoktan serta pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) mendapatkan materi teknis mengenai pengoperasian mesin produksi hingga praktik pembuatan berbagai produk turunan cokelat siap konsumsi.

Selama ini sebagian besar produksi biji kakao asal Sebatik dijual dalam bentuk mentah menuju Tawau, Malaysia, dengan harga rendah sehingga pendapatan petani belum maksimal dibandingkan jika dijual dalam bentuk olahan.

Beberapa poin penting dalam pengembangan ekosistem kakao di wilayah perbatasan Kalimantan Utara ini mencakup rencana strategis yang diimplementasikan oleh pemerintah kabupaten sebagai berikut:

  • Pelaksanaan peremajaan (replanting) tanaman tua guna menjaga stabilitas volume produksi.

  • Pengembangan produk setengah jadi seperti cokelat bubuk melalui fasilitas rumah produksi lokal.

  • Pembagian peran antara petani sebagai penyedia bahan baku dan pelaku UKM sebagai pengolah produk akhir.

  • Pemanfaatan jaringan pasar DKUKMPP untuk memperluas distribusi hingga menjangkau pasar luar daerah.

Sinergi lintas sektor tersebut memungkinkan setiap pihak bergerak sesuai keahlian masing-masing, di mana petani fokus pada aspek produktivitas lahan sementara pelaku usaha berkonsentrasi pada kreativitas pemasaran produk cokelat.

Kehadiran teknologi pengolahan di tingkat lokal memberikan stimulus bagi masyarakat untuk kembali merawat perkebunan mereka yang selama ini kurang produktif akibat minimnya akses pasar terhadap produk olahan bernilai tambah.

Program hilirisasi ini selaras dengan visi pemerintah pusat dalam memperkuat sektor pertanian dari sisi infrastruktur sarana dan prasarana guna menopang kemandirian ekonomi rakyat di seluruh wilayah kedaulatan Indonesia.

Aspek pemasaran menjadi tanggung jawab kolektif guna memastikan hasil produksi dari UPH Maspul Jaya dapat terserap maksimal oleh pasar domestik maupun mancanegara melalui standarisasi kualitas yang telah ditetapkan tim teknis.

Ketersediaan sarana pengolahan yang memadai merupakan fondasi utama dalam menarik minat generasi muda untuk kembali menekuni sektor perkebunan kakao sebagai peluang bisnis menjanjikan di masa depan bagi kesejahteraan masyarakat perbatasan.

Upaya ini menjadi model percontohan bagi pengembangan komoditas unggulan lain di Kabupaten Nunukan agar tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan mampu bersaing melalui produk manufaktur agribisnis yang mandiri.(*)

Type and hit Enter to search

Close