![]() |
| (Foto:Gunungkidulkab) |
Inisiatif ini merupakan wujud kolaborasi produktif antara warga setempat dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Politeknik Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogyakarta Kelompok 10 untuk mengatasi penumpukan sisa panen yang melimpah.
Dilansir dari laman Gunungkidulkab, Minggu (15/02/2026), pemanfaatan limbah kelapa sebagai bahan baku briket mampu meningkatkan nilai tambah produk sampingan perkebunan hingga 20 persen dibandingkan hanya menjual tempurung mentah tanpa proses pengolahan lebih lanjut.
Proses pembuatan arang briket tersebut berlangsung di Balai Padukuhan Singkil dengan melibatkan partisipasi aktif dari jajaran perangkat desa serta anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang antusias mempelajari teknik produksi energi alternatif.
Limbah tempurung kelapa dan tongkol jagung selama ini menjadi persoalan lingkungan utama di wilayah tersebut karena volume produksinya yang sangat besar namun belum mendapatkan penanganan secara maksimal oleh para petani lokal.
Beberapa tahapan krusial dalam proses transformasi limbah menjadi bahan bakar padat yang dilakukan oleh warga bersama mahasiswa Politeknik LPP Yogyakarta selama kegiatan workshop berlangsung adalah sebagai berikut:
Pengarangan bahan baku menggunakan metode karbonisasi tertutup.
Penumbukan hasil arang hingga menjadi serbuk halus.
Pencampuran serbuk arang dengan perekat alami dari tepung tapioka.
Pencetakan briket menggunakan alat pres mekanis sederhana.
Kehadiran para mahasiswa KKN Politeknik LPP Yogyakarta memberikan pendampingan teknis secara langsung mengenai rasio perbandingan bahan yang tepat agar briket yang dihasilkan memiliki daya bakar stabil dan menghasilkan sedikit asap.
Optimalisasi limbah sektor pertanian ini bertujuan menciptakan sumber pemasukan tambahan bagi rumah tangga di wilayah Tepus, mengingat arang briket memiliki permintaan pasar yang cukup stabil untuk kebutuhan kuliner maupun industri.
Kegiatan workshop tersebut menjadi sarana transfer pengetahuan mengenai manajemen limbah perkebunan yang lebih modern bagi masyarakat pesisir Gunung Kidul agar lebih mandiri secara ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang tersedia.
Fokus utama dari program ini adalah mengubah persepsi warga mengenai sampah organik agar tidak lagi dibuang atau dibakar secara sia-sia, melainkan dikelola menjadi produk komersial yang mendukung kelestarian lingkungan hidup.
Pemerintah tingkat Padukuhan Singkil memfasilitasi keberlanjutan program ini dengan menyediakan ruang bagi para pelaku usaha mikro untuk mengembangkan unit produksi briket sebagai bagian dari upaya penguatan ekonomi kreatif di tingkat kalurahan.
Seluruh rangkaian kegiatan edukasi ini selesai dengan dokumentasi hasil produksi perdana briket campuran tempurung kelapa dan tongkol jagung yang siap masuk ke tahap pengujian kualitas laboratorium guna memenuhi standar pasar nasional.(*)

Social Footer