Langkah tersebut diambil untuk mendorong transformasi sistem pertanian di Bengkulu, mengingat keberhasilan para petani di Temanggung dalam mengelola varietas kopi Robusta maupun Arabika melalui standar operasional prosedur yang sangat ketat.
Dalam sesi peninjauan lapangan, Bupati Zurdi mengamati secara langsung bagaimana perbedaan pola perawatan dan manajemen perkebunan yang diterapkan oleh kelompok tani lokal dibandingkan dengan metode yang ada di wilayahnya.
“Tadi saya belajar banyak dari petani di sini. Ada perbedaan teknis dalam penanaman dan pengelolaan kopi di Temanggung, dibandingkan di Kepahiang,” ujar Zurdi, dikutip dari laman JATENGPROV, Sabtu (14/02/2026).
Zurdi mengungkapkan urgensi perubahan metode karena meskipun Kabupaten Kepahiang memiliki hamparan lahan perkebunan yang sangat luas, total output tahunan saat ini dinilai masih belum mencapai angka yang benar-benar maksimal.
“Saya punya lahan itu 26 ribu hektare, tapi produksinya masih 19 ribu ton per tahun, sehingga untuk meningkatkan produksi kopi ini saya ingin edukasi kepada warga saya. Karena selama ini saya lihat rata-rata masih konvensional, dan nanti kita ke arah modern seperti yang dilakukan di Temanggung ini,” ujarnya.
Penerapan teknik modern di Temanggung terbukti mampu menghasilkan kuantitas yang signifikan, dengan rata-rata produktivitas mencapai 2,5 hingga 3 ton kopi basah per hektare melalui skema pemupukan terpadu yang terukur.
Keunggulan sistem budidaya yang dipelajari tersebut mencakup beberapa aspek teknis krusial yang menunjang nilai ekonomi komoditas kopi di pasar domestik maupun internasional, antara lain:
Penggunaan bibit unggul yang sesuai dengan ketinggian lahan.
Pemangkasan rutin untuk menjaga produktivitas dahan tanaman.
Pengendalian hama terintegrasi dan pengolahan pasca panen yang rapi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Temanggung, Joko Budi Nuryanto, menjelaskan faktor utama yang menyebabkan disparitas harga jual kopi di pasar antara kedua wilayah penghasil komoditas tersebut.
“Perbedaan utama adalah metode petik. Di sini sudah menggunakan petik merah, sementara di Kepahiang belum semuanya. Dari sisi harga, kopi petik merah bisa lebih dari Rp70 ribu per kilogram, sedangkan petik hijau sekitar Rp60 ribu per kilogram,” ujarnya.
Data menunjukkan bahwa teknik petik merah memberikan selisih keuntungan sebesar Rp10 ribu per kilogram, sebuah nominal yang sangat berdampak pada akumulasi pendapatan tahunan bagi para pemilik kebun kopi rakyat.
Kabupaten Kepahiang kini menempatkan pengembangan budidaya kopi sebagai program unggulan daerah dengan memanfaatkan kemiripan kondisi geografis kedua wilayah untuk mengadopsi teknik modern yang telah terbukti sukses di Kabupaten Temanggung.(*)

Social Footer