![]() |
| Kementerian Pertanian meresmikan Gerakan Pangan Murah Serentak Nasional di Jakarta pada Minggu (22/02/2026). |
Jakarta, GENKEBUN.COM – Pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Berdasarkan neraca pangan hingga April, posisi surplus produksi yang kuat kini menjadi penyangga utama stabilitas pasokan domestik.
Sembilan komoditas strategis nasional secara resmi dinyatakan telah mencapai swasembada pangan. Keberhasilan ini memberikan bantalan kuat bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen serta menjamin keterjangkauan bagi seluruh masyarakat.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan data terbaru mengenai kelimpahan stok ini saat meresmikan Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak Nasional. Beliau melarang keras adanya praktik spekulasi harga oleh para pelaku usaha.
“Produksi kita tinggi, stok kita banyak. Yang swasembada pangan kita sudah sembilan, yang belum ada tiga. Nah, yang tiga ini pun belum swasembada, stoknya banyak. Jadi tidak boleh ada main-main,” ujar Mentan Amran, dikutip dari laman Kementan, Minggu (22/02/2026).
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) tersebut juga memberikan rincian angka cadangan beras pemerintah dan komoditas protein hewani. Pihaknya menetapkan standar kepatuhan bagi seluruh rantai pasok terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Tidak ada alasan beras naik. Stok kita tertinggi sepanjang sejarah. Minyak goreng kita produsen terbesar dunia, stok pemerintah 700 ribu ton, harga maksimal Rp15.700. Daging ayam Harga Acuan Pembeliannya Rp40.000, daging sapi Rp140.000. Semua harus patuh,” cetus Amran.
Data neraca pangan menunjukkan daftar komoditas yang telah mencapai status swasembada dan surplus meliputi:
Beras, gula konsumsi, dan jagung.
Cabai besar, cabai rawit, dan bawang merah.
Minyak goreng, daging ayam, serta telur ayam.
Stok beras nasional pada Februari tercatat menyentuh angka 3,4 juta ton, meningkat dua kali lipat dari kondisi normal. Pemerintah menyiagakan cadangan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1,5 juta ton.
Mentan kemudian memberikan peringatan serius mengenai mekanisme pengawasan di lapangan melalui kolaborasi lintas lembaga. Pemerintah menggandeng Satuan Tugas (Satgas) Pangan guna melakukan tindakan hukum kepada pihak-pihak yang secara sengaja memicu kenaikan harga.
“Kalau ada yang mencoba menaikkan harga, pemerintah bersama Satgas Pangan akan menindak tegas. Pengawasan difokuskan pada sumber distribusi besar, bukan pedagang kecil. Yang diperiksa adalah pabrik, distributor utama, dan rantai pasok hulunya,” seru Mentan.
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan potensi produksi padi periode Januari-Maret 2026 mencapai 17,65 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka ini mengalami kenaikan signifikan sebesar 15,80 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan (Kemendag), Isy Karim, mendukung penuh pengawasan intensif tersebut. Pemerintah daerah diminta segera melaporkan setiap lonjakan harga yang tidak sejalan dengan melimpahnya kondisi stok pangan di gudang-gudang nasional.(*)

Social Footer