![]() |
| Gambar Ilustrasi Nasib Petani Tebu Banyuwangi Makin Cerah, Bioetanol Jadi Penampung Baru Selain Gula- GENKEBUN.COM |
Banyuwangi, GENKEBUN.COM – Pembangunan pabrik bioetanol di kawasan Pabrik Gula (PG) Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, resmi dimulai guna memperkuat serapan tebu petani lokal sekaligus menciptakan pasar tambahan yang menjanjikan bagi sektor perkebunan rakyat.
Fasilitas produksi milik PT Pertamina yang bersinergi dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) ini menempati lahan seluas 10 hektare. Proyek strategis tersebut merupakan bagian penting dari program hilirisasi nasional berbasis ekonomi rakyat.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menjelaskan bahwa keberadaan pabrik ini memberikan kepastian serapan hasil panen. Beliau menilai kapasitas produksi yang besar akan memaksimalkan pemanfaatan tebu selain untuk diolah menjadi komoditas gula pasir.
“Tebu petani Banyuwangi dan daerah sekitar akan semakin terserap maksimal. Selain untuk produksi gula, tebu juga dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol,” ujar Ipuk, dikutip dari laman rri.co.id, Selasa(10/02/2026).
Ipuk menambahkan bahwa pemanfaatan tetes tebu atau molase sebagai bahan baku utama bioetanol secara otomatis meningkatkan nilai tambah pertanian. Langkah ini dinilai efektif dalam menjaga stabilitas pendapatan para petani tebu setempat.
“Ini menjadi peluang besar bagi petani, karena hasil tebu tidak hanya bergantung pada satu komoditas, tetapi memiliki diversifikasi pemanfaatan,” ungkap Ipuk menjelaskan potensi ekonomi baru dari pengembangan industri hijau tersebut.
Pembangunan fisik pabrik bioetanol Glenmore dijadwalkan mulai berjalan pada Juni 2026 dengan estimasi waktu pengerjaan selama 24 bulan. Proyek ini diproyeksikan mampu memproduksi energi bersih sebanyak 30 ribu kiloliter setiap tahun.
Sejumlah fakta penting mengenai proyek integrasi industri gula dan energi di kawasan Glenmore ini meliputi beberapa poin utama sebagai berikut:
Kapasitas produksi mencapai 30 ribu kiloliter per tahun.
Pemanfaatan molase sebagai bahan baku utama energi bersih.
Masa konstruksi direncanakan tuntas dalam waktu dua tahun.
Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyatakan bahwa integrasi pabrik ini akan mengolah produk sampingan gula. Hal tersebut bertujuan mengoptimalkan potensi lokal demi mendorong kesejahteraan ekonomi masyarakat secara langsung.
“Dengan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi, produk sampingan tebu dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberi dampak langsung bagi perekonomian rakyat,” jelas Agung saat memberikan keterangan terkait dampak positif proyek bagi warga.
Agenda transisi energi ini diawali dengan seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) yang telah dilaksanakan pada Minggu, 8 Februari 2026. Seluruh proses konstruksi hingga operasional nantinya melibatkan pengawasan ketat dari pihak Pertamina dan SGN.
Direktur Utama SGN, Mahmudi, memastikan ketersediaan bahan baku molase untuk operasional pabrik dalam kondisi aman. Pasokan tetes tebu dari proses penggilingan di PG Glenmore akan langsung dialirkan menuju unit pengolahan bioetanol.(*)

Social Footer