Breaking News

Target Kuasai Pasar Dunia, Indonesia Perketat Standar Pembibitan Nilam Nasional

Perkebunan Nimal. (Foto: Humas Pemprov. Aceh)

Jakarta, GENKEBUN.COM - Pemerintah menerapkan standar teknis pembibitan tanaman nilam secara ketat guna menjaga kualitas minyak atsiri nasional agar tetap mendominasi permintaan pasar kosmetik dan farmasi di tingkat global.

Langkah standardisasi ini mencakup pemilihan varietas unggul hingga prosedur persemaian yang tepat demi menghasilkan tanaman produktif serta minyak nilam dengan kadar zat pengikat atau fixative agent yang bermutu tinggi.

Dilansir dari laman Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, Selasa (13/01/2026), Indonesia menyuplai sekitar 85 persen kebutuhan minyak nilam dunia dengan volume ekspor rata-rata mencapai 1.057 ton per tahun.

Standar Baku Benih Unggul

Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) harus berasal dari varietas murni yang telah dilepas pemerintah seperti Sidikalang, Lhokseumawe, Tapaktuan, Patchoulina 1, atau varietas Patchoulina 2 agar produktivitasnya terjamin.

Kriteria benih berkualitas memerlukan tanaman induk sehat yang telah berumur lima bulan pada panen pertama atau empat bulan setelah panen pertama guna mendapatkan setek yang kuat dan layak tanam.

Batang untuk benih harus memiliki diameter antara 0,5 sampai 1,0 centimeter, tidak dalam kondisi bengkok, serta memiliki 3 hingga 4 buku sebagai titik tumbuh tunas baru.

Teknik pemotongan dilakukan pada pagi hari secara meruncing tepat di bawah atau di atas ruas batang dengan panjang setek berkisar antara 20 hingga 30 centimeter.

Prosedur Persemaian dan Nutrisi

Penggunaan campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 banding 1 menjadi media tanam utama dalam polibeg berlubang guna mencegah terjadinya genangan air yang merusak perakaran.

Standardisasi perlakuan benih sebelum tanam meliputi beberapa langkah teknis:

  • Perendaman setek dalam air kelapa 25 persen selama 15 menit.
  • Pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) untuk merangsang pertumbuhan akar.
  • Penambahan 10 gram inokulum Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) per setek.

Penggunaan FMA secara teknis membantu meningkatkan penyerapan hara oleh tanaman, mempercepat fase pertumbuhan, serta memperkuat ketahanan bibit nilam terhadap risiko cekaman kekeringan di lahan terbuka.

Manajemen Naungan dan Lokasi

Pemberian naungan berupa daun kelapa atau paranet di area persemaian diatur menghadap arah utara-selatan dengan ketinggian sisi timur 180 centimeter dan sisi barat setinggi 150 centimeter.

Bibit baru siap pindah tanam ke area perkebunan setelah memasuki umur 4 sampai 6 minggu atau saat tanaman sudah memiliki perakaran cukup dan berdaun 3 hingga 4 pasang.

Kebutuhan benih untuk lahan seluas satu hektar mencapai 20.000 polibeg, dengan tambahan 2.000 polibeg cadangan yang disiapkan khusus untuk proses penyulaman tanaman yang mati atau rusak.

Saat ini tanaman nilam telah berkembang di 20 provinsi dengan lima wilayah luasan tertinggi mencakup Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Provinsi Aceh.

Setiap tanaman induk nilam yang berkualitas mampu memproduksi sekitar 40 hingga 60 setek benih dengan potensi produktivitas terna basah mencapai 36 sampai 40 ton per hektar.(*)

-----

Temukan kami di Google - Informasi dan berita perkebunan tersedia secara lengkap di Google, disini: www.google.com/genkebun.com.

Type and hit Enter to search

Close