Breaking News

Indonesia dan Malaysia Kuasai 85 Persen Pasokan Minyak Sawit Dunia

Petugas Indonesian Palm Oil Strategic Studies memantau aktivitas bongkar muat Crude Palm Oil di Pelabuhan Dumai pada Kamis (26/02/2026).

 Indonesia, GENKEBUN.COM – Indonesia dan Malaysia resmi mengukuhkan dominasi mutlak dengan menguasai 85 persen produksi minyak sawit global pada tahun pemasaran 2025/2026 demi menjaga stabilitas pasokan komoditas pangan dan energi dunia.

Laporan United States Department of Agriculture (USDA) bertajuk Oilseeds: World Markets and Trade mengonfirmasi bahwa konsentrasi produksi masih berpusat di Asia Tenggara sebagai mesin utama pertumbuhan industri minyak nabati global.

Dilansir dari laman IPOSS, Kamis (26/02/2026), Indonesia mempertahankan posisi puncak dengan total produksi mencapai 46 juta ton atau menyumbang 58 persen dari keseluruhan output kelapa sawit yang dihasilkan secara global.

Selain berperan menjadi eksportir terbesar, Indonesia mengalokasikan volume besar Crude Palm Oil (CPO) untuk kebutuhan domestik. Program biodiesel menjadi penyerap utama stok nasional guna memperkuat ketahanan energi hayati dalam negeri.

Malaysia menempati peringkat kedua dengan volume produksi berkisar antara 19 hingga 19,5 juta ton. Capaian ini didukung oleh stabilitas operasional perkebunan di wilayah Sabah serta Sarawak yang menjadi tulang punggung ekspor.

Berikut adalah rincian produksi dari beberapa negara produsen utama lainnya di luar dua raksasa Asia Tenggara:

  • Thailand: 3,3 juta ton.

  • Kolombia: 1,9 juta ton.

  • Nigeria: 1,5 juta ton.

  • Guatemala: 1 juta ton.

  • Papua Nugini: 800–850 ribu ton.

Thailand mengarahkan sebagian besar produksinya untuk memenuhi permintaan domestik, terutama sektor biodiesel. Hal ini tercatat dalam laporan Global Agricultural Information Network (GAIN) yang diterbitkan oleh pihak USDA secara resmi.

Kolombia muncul sebagai kekuatan utama di Amerika Latin dengan orientasi pasar ganda. Industri sawit mereka melayani kebutuhan lokal sekaligus menyasar pasar ekspor ke benua Eropa dengan volume yang cukup signifikan.

Sementara itu, Nigeria menghadapi tantangan besar karena tingkat konsumsi masyarakat melampaui kapasitas produksi nasional. Masalah infrastruktur serta rendahnya produktivitas lahan menjadi faktor penghambat utama bagi industri sawit di kawasan Afrika.

Guatemala menunjukkan pertumbuhan positif dengan fokus kuat pada perdagangan luar negeri. Begitu pula dengan Papua Nugini yang mengapalkan sebagian besar hasil panen sawit mereka untuk mengisi permintaan pasar internasional pada periode ini.

Ketergantungan dunia pada segelintir negara membuat pasar sangat peka terhadap dinamika internal. Kebijakan nasional, perubahan cuaca ekstrem, hingga gangguan logistik di wilayah tropis seketika dapat mengguncang stabilitas harga minyak nabati.

Pengalaman tahun 2022 menjadi bukti nyata saat kebijakan penghentian ekspor sementara diberlakukan untuk menstabilkan harga minyak goreng lokal. Keputusan tersebut memicu lonjakan harga global yang berdampak pada India dan Tiongkok.

Dinamika industri ke depan sangat bergantung pada performa dua produsen utama di Asia Tenggara. Keberlanjutan rantai pasok global kini ditentukan oleh efektivitas tata kelola serta peningkatan produktivitas pada setiap lahan perkebunan.

Dinamika ini menunjukkan bahwa setiap pergeseran regulasi di Jakarta atau Kuala Lumpur memiliki efek domino global. Kebutuhan pangan, kosmetik, hingga bioenergi dunia kini berada di bawah kendali pusat gravitasi sawit Asia.(*)

Type and hit Enter to search

Close