Rembang, GENKEBUN.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang mencatatkan capaian positif pada panen padi perdana Musim Tanam I (MT1) Februari 2026 dengan harga jual gabah tingkat petani melampaui Angka Pembelian Pemerintah (APP).
Hasil ubinan menunjukkan produktivitas lahan terjaga stabil sehingga memberikan nilai ekonomi tinggi bagi petani lokal. Harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini mencapai Rp7.100 per kilogram, selisih signifikan dari APP Rp6.500.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, menjelaskan detail hasil pemantauan lapangan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) serta petugas penyuluh pertanian mengenai capaian rata-rata produksi gabah tahun ini.
“Berdasarkan hasil panen awal, produktivitas padi mencapai sekitar 5,8 ton per hektare. Ini menunjukkan kondisi pertanaman cukup baik,” ujar Agus, dikutip dari laman Jateng Prov, Minggu (14/02/2026).
Terkait aspek teknis tanaman, Agus mengungkapkan bahwa faktor cuaca serta minimnya gangguan organisme pengganggu tumbuhan menjadi kunci utama keberhasilan pengisian bulir padi secara maksimal pada periode panen awal musim ini.
“Kondisi tanaman relatif sehat, pengisian bulir bagus, sehingga kualitas gabah yang dihasilkan juga baik,” jelas Agus di kantornya saat memaparkan data perkembangan sektor tanaman pangan di wilayah Kabupaten Rembang.
Keberhasilan ini tercermin dari kondisi fisik gabah yang memenuhi standar kualitas tinggi untuk diproses menjadi beras premium. Berikut adalah beberapa poin kunci pencapaian sektor pertanian di wilayah Kabupaten Rembang:
Harga GKP menyentuh level Rp7.100 per kilogram.
Produktivitas lahan mencapai angka 5,8 ton per hektare.
Minimnya serangan hama dan penyakit selama masa pertumbuhan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebaran panen mulai meluas ke berbagai kecamatan secara bertahap. Hingga pertengahan Februari, pasokan gabah dari petani terpantau lancar tanpa kendala teknis berarti pada proses pemotongan.
Meskipun hasil produksi melimpah, Agus memberikan catatan mengenai kendala yang muncul akibat tingginya curah hujan. Situasi tersebut berdampak langsung pada durasi pengeringan gabah yang selama ini mengandalkan sinar matahari alami.
“Pengeringan gabah masih menjadi perhatian. Karena itu, muncul usulan agar ke depan pemerintah dapat memfasilitasi pengadaan mesin pengering gabah, untuk mendukung petani dan penggilingan padi,” ungkap Agus saat menutup keterangannya.
Saat ini fasilitas mesin pengering atau dryer baru tersedia secara terbatas di beberapa titik, salah satunya di Desa Karangsari. Mayoritas pelaku usaha penggilingan skala kecil masih menggunakan metode jemur konvensional.
Dintanpan memprediksi puncak panen segera terjadi dalam waktu dekat secara merata di seluruh wilayah. Ketersediaan stok gabah di tingkat penggilingan dipastikan mencukupi kebutuhan pangan daerah dengan mutu hasil panen terjaga.(*)

Social Footer