Kolaborasi lintas lembaga ini bertujuan memperluas jangkauan pasar internasional bagi petani kelapa lokal melalui standarisasi kualitas produk serta penerapan teknologi pengolahan pascapanen yang mampu memberikan nilai ekonomi lebih tinggi.
Dilansir dari laman BRMP, Kamis (19/02/2026), volume produksi kelapa di Sulawesi Utara mencapai lebih dari 250.000 ton per tahun yang berpotensi besar untuk diolah menjadi beragam produk turunan bernilai ekspor.
Fokus utama kerja sama ini adalah menciptakan hilirisasi industri yang mapan sehingga komoditas yang dikirim ke luar negeri bukan lagi bahan mentah, melainkan produk jadi yang memiliki daya saing global.
Pertemuan tersebut mengidentifikasi beberapa parameter penting dalam standar perdagangan internasional yang harus dipenuhi oleh para pelaku usaha di Sulut agar produk kelapa dapat diterima dengan mudah di Sri Lanka.
Beberapa poin strategis yang menjadi fokus dalam rancangan kerja sama antara BBRMP Sulut dan organisasi kelapa internasional tersebut mencakup hal-hal teknis sebagai berikut:
Peningkatan kualitas santan kelapa organik sesuai standar keamanan pangan.
Pengembangan teknologi pengolahan arang tempurung kelapa untuk industri aktif.
Standardisasi sertifikasi keberlanjutan bagi lahan perkebunan kelapa rakyat.
Langkah ini diambil mengingat Sri Lanka memiliki permintaan yang spesifik terhadap beberapa jenis produk turunan kelapa, terutama untuk kebutuhan industri manufaktur dan sektor kuliner berskala besar di negara tersebut.
Penerapan teknologi hasil riset BBRMP Sulut akan mempermudah para petani dalam mengolah daging kelapa menjadi produk yang memiliki masa simpan lebih lama tanpa mengurangi kandungan nutrisi asli dari buah tersebut.
Data menunjukkan bahwa optimalisasi pengolahan limbah kelapa seperti sabut dan tempurung juga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah serta menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat di sekitar sentra perkebunan.
Koordinasi dengan pihak ICC memastikan bahwa pelaku industri di Sulawesi Utara mendapatkan informasi terkini mengenai regulasi perdagangan serta preferensi konsumen yang berlaku di wilayah Asia Selatan secara umum.
Implementasi strategi ekspor ini akan dilakukan melalui pendampingan teknis secara berkala kepada koperasi petani agar proses produksi tetap konsisten menjaga mutu sesuai dengan perjanjian perdagangan yang telah disepakati bersama.
Peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan ini menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas harga kelapa di tingkat produsen sekaligus memperkuat posisi tawar produk unggulan daerah di kancah perdagangan dunia.(*)

Social Footer