![]() |
| Koordinasi teknis ketersediaan benih jagung industri antara Kementerian Pertanian dan produsen benih nasional di Jawa Timur Sabtu (21/02/2026). |
Jawa Timur, GENKEBUN.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pengembangan jagung pangan untuk memasok kebutuhan industri nasional guna memperkuat kemandirian pangan sekaligus mengejar target swasembada 18 juta ton pipilan kering pada 2026.
Langkah strategis ini memperluas pemanfaatan komoditas yang sebelumnya dominan untuk pakan ternak. Pemerintah mengoptimalkan potensi lahan dan teknologi agar jagung lokal mampu memenuhi standar baku industri pengolahan pangan domestik.
Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan, Tiurmauli Silalahi, menjelaskan bahwa pemerintah saat ini memperkuat sinergi antara petani dan pihak swasta. Langkah tersebut bertujuan memastikan ketersediaan varietas jagung yang sesuai spesifikasi pabrikan.
“Saat ini Direktorat Hilirisasi Hasil Tanaman bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan melakukan sosialisasi dan menjalin kerja sama dengan berbagai provinsi sentra jagung untuk memastikan pasokan industri berjalan berkelanjutan,” ujar Tiurmauli, dikutip dari laman Kementan, Sabtu (21/02/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi jagung periode Januari–Maret 2026 menyentuh 4,94 juta ton. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 4,18 persen jika dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun lalu.
Pemerintah mencatat adanya stok angkut (carry over) sekitar 4,5 juta ton dalam neraca pangan nasional. Kondisi surplus tersebut menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk menghentikan ketergantungan terhadap pasokan jagung impor.
Proyeksi produksi nasional: 18 juta ton pipilan kering.
Potensi panen awal tahun: 4,94 juta ton.
Harga pembelian tingkat petani: Rp5.500 per kilogram.
Kebutuhan industri pangan: 450.000 ton per tahun.
“Melalui penguatan kemitraan dan hilirisasi, jagung tidak hanya menjadi komoditas pakan, tetapi juga sumber bahan baku industri pangan bernilai tambah tinggi bagi ekonomi nasional,” kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro.
Kebutuhan jagung untuk industri pengolahan pati dan turunan pangan mencapai 450.000 ton setiap tahun. Salah satu perusahaan yang memerlukan pasokan jagung berkadar pati tinggi secara konsisten adalah PT Tereos FKS Indonesia.
Kementan menjalin koordinasi intensif dengan produsen benih nasional seperti PT Restu Agropro Jayamas di Kediri, Jawa Timur. Kolaborasi ini menjamin ketersediaan benih unggul yang mampu menghasilkan bulir jagung berkualitas industri tinggi.
Teknologi pengolahan yang semakin maju mendukung penuh diversifikasi produk turunan jagung di Indonesia. Transformasi ini mengubah posisi jagung dari sekadar komoditas mentah menjadi bahan baku bernilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.
Pemerintah menetapkan harga pembelian di tingkat petani sebesar Rp5.500 per kilogram untuk melindungi produsen dari fluktuasi pasar. Kebijakan harga ini berlaku bagi seluruh sentra produksi jagung yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.(*)

Social Footer