![]() |
| Gambar Ilustrasi Perkebunan Kakao- GENKEBUN.COM |
Tana Tidung, GENKEBUN.COM – Masyarakat Desa Menjelutung kini mulai menggarap potensi tanaman kakao sebagai sumber pendapatan alternatif melalui program pelatihan kewirausahaan yang diinisiasi oleh PT Mandiri Intiperkasa (MIP) pada Februari 2026.
Langkah strategis ini melibatkan 62 warga setempat guna menciptakan kemandirian ekonomi saat cadangan batu bara habis. Sebanyak 22 hektare lahan telah disiapkan sebagai lokasi penanaman perdana bagi tiga kelompok tani.
Kepala Desa (Kades) Menjelutung, Samsul, secara mandiri melakukan pembibitan skala besar di kediamannya guna memastikan ketersediaan logistik tanam. Ia menjelaskan rencana pembagian kelompok serta target perluasan area perkebunan pada tahun mendatang.
“Saat ini, saya sudah menyiapkan bibit kakao siap tanam sebanyak 70.000 bibit. Saya melakukan pembibitan di lahan belakang rumah saya. Di tahun 2026 ini, kami akan membagi 3 kelompok untuk tahap pertama. Kami akan melihat hasilnya dalam satu tahun ke depan ini, sehingga di tahun 2027 nanti kelompoknya akan ditambah dan target penanamannya juga bertambah juga,” ujar Samsul, dikutip dari laman RRI, Rabu (11/02/2026).
Pemerintah Desa (Pemdes) Menjelutung memilih kakao karena pertimbangan kemudahan logistik serta kecocokan dengan kondisi fisik para petani yang mayoritas merupakan warga berusia lanjut. Samsul menekankan keunggulan komoditas ini dibandingkan sawit.
“Pemasaran dari hasil panen kakao juga tidak begitu sulit. Istilahnya, pakai motor saja sudah bisa dibawa hasil panennya. Cara perawatan kakao juga tidak seribet menanam sawit, apa lagi kami masyarakat ini rata-rata sudah berumur. Saya minta ke warga agar terus semnagat menanam kakao, apa lagi sudah didukung penuh sama MIP,” beber Samsul.
Berikut adalah rincian target pengembangan kakao di Desa Menjelutung pada tahap awal program pemberdayaan:
Jumlah peserta pelatihan: 62 warga desa.
Luas lahan tahap pertama: 22 hektare.
Jumlah bibit awal: 20.000 batang.
Dukungan PT MIP dalam program ini bertujuan menciptakan ekosistem perkebunan yang berkelanjutan bagi masyarakat di Kabupaten Tana Tidung (KTT). Kolaborasi tersebut mendatangkan tenaga ahli guna memastikan kualitas hasil panen petani lokal.
Support Manager PT MIP, Rochmad Mujiono, menjelaskan bahwa pihaknya menghadirkan instruktur yang memiliki pengalaman praktis. Hal ini dilakukan agar warga mendapatkan pengetahuan menyeluruh mengenai rantai pasok dari penanaman hingga ke pasar.
“Karena trainer yang didatangkan ini bukan hanya menyampaikan teori saja, melainkan beliau adalah praktisi yang juga melakukan budidaya kakao di Kabupaten Berau. Bahkan kegiatan yang dilakukan mulai dari hulu sampai hilir. Ini sangat menarik. Jadi peserta bisa menggali lebih lanjut terkait budidaya kakao hingga pemasarannya,” ungkap Rochmad.
Hingga saat ini, belum ada wilayah lain di KTT yang berfokus secara intensif pada pengembangan kakao. Potensi Desa Menjelutung diproyeksikan menjadi sentral produksi sekaligus ikon komoditas cokelat di masa depan.
Upaya ini memperkuat posisi sektor perkebunan sebagai tumpuan kesejahteraan warga pasca-berakhirnya operasi tambang. Pelatihan budidaya dari hulu ke hilir menjadi kunci utama keberhasilan transisi ekonomi di wilayah Kabupaten Tana Tidung.(*)

Social Footer