![]() |
| (Foto: Berita.go.id) |
Batang, GENKEBUN.COM – Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Surabaya menggelar pelatihan budidaya kopi berkelanjutan bagi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di Deles Dharmawangsa Agro Forestry, Kabupaten Batang, Minggu (15/2/2026).
Kolaborasi ini menghadirkan Sustanto dari Yuly Palawija Batang Coffee guna memaparkan strategi jitu agar petani mampu menjalin kemitraan strategis. Tujuannya adalah memastikan produk kopi lokal mampu memenuhi standar selera pasar.
Sustanto menekankan pentingnya sinergi antara petani hutan dengan berbagai ekosistem bisnis hilir. Ia mendorong para anggota agar selalu bergerak aktif membangun jejaring luas demi meningkatkan volume penjualan produk secara signifikan.
“Semoga KUPS dari berbagai desa bisa menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas pecinta kopi, sehingga memperluas penjualan produk sesuai keinginan konsumen,” ujar Sustanto, dikutip dari laman Berita, Minggu (15/02/2026).
Materi pelatihan juga mencakup manajemen keuangan pasca panen yang sangat krusial. Sustanto memberikan pemahaman agar keuntungan tidak langsung habis digunakan, melainkan dialokasikan kembali untuk pengadaan bibit kopi kualitas terbaik.
“Hasil penjualannya tidak seluruhnya dinikmati, tapi bisa untuk mempersiapkan penanaman berikutnya. Jadi pascapanen, bibit kopi akan terpenuhi, demi kualitas yang terus makin baik,” jelasnya saat memberikan pemaparan di hadapan peserta.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa para peserta pelatihan ini didominasi oleh kaum perempuan. Mereka mendapatkan pendampingan intensif untuk mengelola potensi perkebunan secara profesional sehingga mampu membantu stabilitas ekonomi keluarga.
Selain aspek teknis, pelatihan ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama yang selama ini menghambat kemajuan petani lokal di wilayah Batang. Beberapa poin krusial yang menjadi fokus perbaikan antara lain sebagai berikut:
Penerapan teknik budidaya kopi yang belum sepenuhnya menganut prinsip berkelanjutan.
Keterbatasan pengetahuan mengenai metode pengolahan pasca panen yang standar.
Belum optimalnya akses pasar dan rantai kemitraan dengan pelaku usaha besar.
Ketua KUPS Perempuan Desa Bismo, Blado, Sumini, menyatakan bahwa ilmu dari para pakar sangat menunjang produktivitas. Ia bertekad menerapkan strategi penjualan yang tepat agar mendapatkan hasil maksimal bagi masa depan.
“Ilmunya bermanfaat sekali, karena langsung dari pakarnya. Saya pingin kalau sudah dapat ilmunya bisa mendapatkan keuntungan terus hasilnya ditabung buat kebutuhan di masa depan,” ungkap Sumini menyikapi materi yang didapatkannya.
Kondisi sebelumnya menunjukkan bahwa keterbatasan pengetahuan pasca panen berdampak langsung pada penurunan mutu produk. Hal inilah yang mendasari pentingnya transformasi pola tanam dan pola jual bagi para petani kopi.
Kini para anggota KUPS memiliki akses pengetahuan untuk menjual produk langsung kepada pembeli atau pasar mitra. Langkah ini memangkas rantai distribusi panjang yang selama ini merugikan posisi tawar petani kecil.(*)

Social Footer