Breaking News

PM-AAS Dongkrak Produktivitas Padi Brebes hingga 10,43 Ton per Hektare

Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian menggelar kegiatan panen PM-AAS di Desa Kedungneng, Kabupaten Brebes, Selasa (4/8/2026).(Foto: BRMP)
GENKEBUN.COM – Penerapan Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) mencatat hasil positif pada panen padi di Desa Kedungneng, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Hasil ubinan mencapai 10,43 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.

Produktivitas tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata hasil panen petani setempat yang selama ini berkisar 5–6 ton GKP per hektare. Capaian itu diperoleh melalui penerapan PM-AAS yang memadukan berbagai teknologi budidaya dalam satu sistem produksi.

Keberhasilan penerapan PM-AAS di berbagai daerah menjadi dasar perluasan program secara nasional. Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) menyebut hasil uji lapangan menunjukkan peningkatan produktivitas yang konsisten pada sejumlah lokasi penerapan.

“Pilot project yang kami lakukan di berbagai daerah menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Karena itu tahun ini PM-AAS mulai diperluas di seluruh Indonesia dengan target penerapan mencapai satu juta hektare. Harapannya, produktivitas meningkat dan pendapatan petani ikut terdongkrak,” ujar Fadjry, dikutip dari laman BRMP Riau.

PM-AAS mengintegrasikan berbagai komponen teknologi budidaya dalam satu sistem produksi. Penerapannya meliputi penggunaan varietas unggul spesifik lokasi, mekanisasi pertanian, pemupukan berimbang, pengelolaan air, hingga pendampingan budidaya secara intensif sejak awal tanam sampai panen.

Pada lahan penerapan di Brebes, peningkatan produktivitas dicapai melalui penerapan paket teknologi PM-AAS secara utuh. Teknologi tersebut mencakup sistem tanam jajar legowo, pemupukan berimbang, serta metode pengairan berselang atau Alternate Wetting and Drying (AWD).

Keberhasilan penerapan teknologi itu juga dirasakan langsung oleh petani yang terlibat dalam program PM-AAS. Salah satunya berasal dari Desa Kedungneng yang mengaku sempat meragukan metode budidaya tersebut sebelum melihat perkembangan tanaman di lapangan.

“Alhamdulillah hasilnya bagus. Awalnya saya tidak percaya karena biasanya cara saya bertani tidak seperti ini. Tapi semakin hari pertanamannya tumbuh semakin bagus, dan ke depan Insya Allah saya mau lanjut lagi,” ungkap Setia.

Pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa penerapan PM-AAS tidak hanya menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, tetapi juga mendorong petani semakin yakin menerapkan teknologi budidaya modern dalam kegiatan usaha taninya.

Modernisasi pertanian juga memperoleh dukungan dari Pemerintah Kabupaten Brebes. Dukungan tersebut disampaikan pada kegiatan panen PM-AAS sebagai bagian dari penguatan pembangunan sektor pertanian di daerah.

“Kami percaya bahwa masa depan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan kerja keras, tetapi juga harus didukung oleh inovasi, teknologi, kolaborasi, dan kelembagaan petani yang kuat,” ujarnya.

Sementara itu, BRMP Jawa Tengah memperluas penerapan PM-AAS sebagai bagian dari modernisasi pertanian nasional. Hingga September 2026, penerapan program di Jawa Tengah ditargetkan menjangkau 138.284 hektare lahan padi.

Selain memperluas area penerapan, program tersebut juga mencakup penyediaan alat dan mesin pertanian, pelatihan, pendampingan, serta penguatan kapasitas sekitar 4.000 petani dan 300 aparatur. Seluruh upaya tersebut menjadi bagian dari target nasional penerapan PM-AAS pada satu juta hektare lahan padi.(*)

Type and hit Enter to search

Close