![]() |
| PSLB INSTIPER melakukan kunjungan kerja pengembangan lanskap kakao di Kabupaten Pacitan pada Kamis (13/8/2026). |
GENKEBUN.COM – Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Pacitan untuk membahas pengembangan Pusat Pengembangan Lanskap Kakao bersama Pemerintah Kabupaten Pacitan dan pelaku utama kakao di tingkat tapak.
Pertemuan tersebut mempertemukan tim PSLB INSTIPER dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pacitan (DPKP) serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bumi Mina Jaya, Kecamatan Punung, beserta jajaran pejabat terkait dan perwakilan kelompok tani.
Dilansir dari laman (pslb.instiperjogja), Menanggapi kunjungan kerja Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER ke Pacitan pada 13 Agustus 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pacitan menilai pendekatan model bisnis sistem lanskap sangat relevan untuk mendukung agenda intensifikasi, ekstensifikasi, dan hilirisasi kakao daerah. PSLB INSTIPER menegaskan pentingnya mengubah orientasi kakao menjadi sebuah landscape enterprise terpadu melalui kehadiran Cocoa Development Center sebagai orkestrator ekosistem dari hulu ke hilir. Berdasarkan roadmap 2027–2035, program ini menargetkan keterlibatan 3.000 petani dan 2.500 hektare lahan dengan ambisi mengerek produktivitas dari 0,7 ton menjadi 1,5 ton per hektare, serta meningkatkan kualitas biji kakao fermentasi hingga 70% demi memperkuat nilai tambah ekonomi lokal dan menembus pasar premium.
Model pengembangan yang dibahas mencakup sistem lanskap dan rantai nilai kakao, dengan menghubungkan petani, kelompok tani, penyedia input, pusat pengumpulan dan pengolahan, industri, pasar, serta institusi pendukung.
Konsep tersebut juga mencakup pusat pelayanan publik dan pusat orkestrasi pengembangan kakao untuk menghubungkan berbagai pihak dalam pengembangan komoditas unggulan Kabupaten Pacitan.
PSLB INSTIPER memperkenalkan ekosistem pengembangan kakao yang dibangun bertahap, mulai dari penyedia input, petani, kelompok tani atau koperasi, Mini Cocoa Hub, Cocoa Development Center, industri, hingga pasar ekspor.
Cocoa Development Center menjadi salah satu simpul dalam sistem tersebut, dengan fungsi meliputi fermentasi, pengeringan, sortasi, penyimpanan, pengendalian mutu, pengolahan, hingga dukungan pemasaran.
Dalam model operasional yang dibahas, aliran bisnis kakao mencakup produksi, fermentasi, pengeringan, sortasi, penyimpanan, pengolahan, hingga pemasaran sebagai rangkaian pengembangan dari hulu ke hilir.
PSLB INSTIPER juga memaparkan prospek Pacitan Sustainable Cocoa Landscape Enterprise untuk periode 2027–2035, dengan sasaran awal melibatkan sekitar 3.000 petani dan 2.500 hektare lahan kakao.
Dari sisi produktivitas, program tersebut mencatat target peningkatan hasil kakao dari sekitar 0,7 ton menjadi 1,5 ton per hektare, sekaligus meningkatkan proporsi biji kakao yang difermentasi hingga sekitar 70 persen.
Target tersebut berkaitan dengan sejumlah persoalan pengembangan kakao yang disebut dalam pembahasan, seperti tanaman yang sudah tua, produktivitas masih rendah, dan keterbatasan fasilitas pascapanen.
Pacitan juga memiliki peluang untuk mengembangkan kakao premium, memasok industri cokelat domestik, serta mengintegrasikan pengembangan kakao dengan agroforestri dan pariwisata.
Penguatan nilai tambah di tingkat lokal menjadi bagian lain dari konsep pengembangan tersebut. Peningkatan produksi dibarengi dengan peningkatan kemampuan petani dan kelembagaan lokal dalam menghasilkan produk berkualitas dan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Model bisnis yang dibahas tidak hanya mengandalkan penjualan biji kakao. Pusat pengembangan dapat memperoleh pendapatan melalui layanan fermentasi, pengeringan dan grading, penjualan produk cokelat, pembibitan, pelatihan, hingga agro-tourism.
Untuk mendukung ekosistem tersebut, PSLB INSTIPER memaparkan skema investasi yang dapat dikembangkan bertahap, mulai dari Farmer Kit, Community Cocoa Hub, hingga Cocoa Development Center, dengan fokus awal pada fermentasi, pengeringan, pengendalian mutu, dan pengolahan.
Model kelembagaan menempatkan koperasi sebagai salah satu pengelola utama dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta. Sementara itu, roadmap 2027–2035 mencakup rehabilitasi kebun, penguatan kelembagaan, fermentasi, branding, pengolahan, pasar premium, ekspor, dan wisata kakao.
Pertemuan antara PSLB INSTIPER, Pemerintah Kabupaten Pacitan, dan kelompok tani di Punung menjadi bagian dari pembahasan menuju penyusunan kelembagaan dan model bisnis Pacitan Sustainable Cocoa Landscape Enterprise yang menghubungkan petani, pemerintah, ilmu pengetahuan, investasi, industri, dan pasar.(*)

Social Footer