![]() |
| Kementerian Pertanian dalam panen padi PM-AAS di Lajaroko, Soppeng, Rabu (19/8/2026). |
Panen berlangsung di Lajaroko, Kelurahan Manorangsalo, Kecamatan Marioriawa, pada musim kemarau pertama. Pertanaman menghadapi cekaman kekeringan serta intensitas serangan hama dan penyakit lebih tinggi dibandingkan musim sebelumnya.
Dilansir dari laman Kementan RI, panen PM-AAS di Soppeng mencatat produktivitas 10,2 ton per hektare dari areal seluas 20 hektare pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Produktivitas tersebut relatif terjaga dibandingkan musim tanam sebelumnya yang mencapai 10,4 ton per hektare. Selisihnya hanya 0,2 ton per hektare meski kondisi pertanaman menghadapi tekanan lingkungan lebih berat.
Selain capaian tersebut, penerapan PM-AAS pada kelompok tani lain di Soppeng juga mencatat hasil panen yang meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan metode budidaya yang sebelumnya digunakan petani.
Penerapan PM-AAS menggabungkan sejumlah komponen produksi, mulai dari pengelolaan budidaya, hara dan air, pengendalian organisme pengganggu tanaman, mekanisasi, pemanfaatan data dan teknologi informasi, hingga pengelolaan panen dan pascapanen.
Capaian di Soppeng juga sejalan dengan hasil penerapan PM-AAS di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Panen pada lahan seluas 10 hektare mencatat produktivitas tertinggi mencapai 12,35 ton per hektare.
Panen tersebut berlangsung di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi. Berdasarkan hasil ubinan Badan Pusat Statistik Kabupaten Indramayu, produktivitas sebelumnya berada pada kisaran 6 sampai 7 ton per hektare.
Jika dibandingkan dengan batas atas produktivitas sebelumnya sebesar 7 ton per hektare, capaian 12,35 ton per hektare di Indramayu menunjukkan peningkatan sekitar 76 persen berdasarkan data hasil panen.
Perbedaan kondisi di Soppeng dan Indramayu menunjukkan penerapan PM-AAS berlangsung pada karakteristik wilayah yang berbeda. Di Soppeng, pertanaman menghadapi kekeringan serta tekanan hama dan penyakit.
Kementerian Pertanian sebelumnya menguji penerapan PM-AAS di berbagai wilayah dengan cakupan mencapai 1.600 hektare. Hasil pengujian mencatat produktivitas sekitar 9 hingga 12 ton per hektare.
Dalam penerapannya, PM-AAS mengombinasikan berbagai teknologi sesuai kebutuhan lapangan. Sistem tersebut mencakup pengaturan budidaya, mekanisasi, pengelolaan hara dan air, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta pemanfaatan data.
Hasil panen di Soppeng menjadi bagian dari proses pengujian dan evaluasi PM-AAS. Data lapangan digunakan untuk mengukur hasil penerapan sebelum model yang sesuai dikembangkan pada skala lebih luas.
Dengan produktivitas 10,2 ton per hektare dari lahan 20 hektare, penerapan PM-AAS di Soppeng mencatat hasil tinggi pada musim kemarau. Sementara Indramayu mencapai 12,35 ton per hektare.(*)

Social Footer