![]() |
| BRMP BIOGEN dalam kegiatan konservasi padi lokal di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Kamis (27/8/2026).(Foto: BRMP BIOGEN) |
GENKEBUN.COM – Petani di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, masih mempertahankan padi lokal sebagai pilihan tanam, di tengah dorongan penggunaan varietas unggul untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Pilihan tersebut berkaitan dengan pengalaman petani, kondisi lingkungan, dan kebutuhan masyarakat setempat. Padi lokal juga menjadi bagian dari sistem pertanian Kapuas yang berkembang serta diwariskan dari generasi ke generasi.
Dilansir dari laman BRMP BIOGEN, Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, produksi padi Kabupaten Kapuas pada 2025 mencapai 223.915 ton atau sekitar 34,55 persen produksi padi provinsi.
Pada tahun yang sama, luas panen padi di Kapuas mencapai sekitar 67.531 hektare dengan produktivitas rata-rata 3,32 ton per hektare. Sementara sekitar 70–80 persen luas tanam masih menggunakan varietas lokal.
Data tersebut menunjukkan varietas lokal masih memiliki posisi kuat dalam sistem produksi pangan Kapuas. Sejumlah varietas lokal memiliki produktivitas sekitar 2,5–3 ton per hektare, sedangkan beberapa varietas unggul mampu menghasilkan produksi lebih tinggi.
Selain varietas yang digunakan, produktivitas padi juga dipengaruhi serangan organisme pengganggu tanaman, perubahan iklim, keterbatasan sarana produksi, serta penerapan teknik budidaya yang belum optimal.
Meski produktivitasnya berbeda, varietas lokal memiliki karakter yang terbentuk melalui proses adaptasi panjang terhadap lingkungan dan seleksi petani dari waktu ke waktu. Karakter tersebut menjadi salah satu alasan padi lokal tetap dipertahankan.
Kondisi itu terlihat pada lahan rawa pasang surut Kapuas, tempat karakter adaptif padi lokal menjadi salah satu pertimbangan petani. Beras yang dihasilkan juga memiliki karakter dan cita rasa sesuai preferensi masyarakat setempat.
Varietas lokal merupakan bagian dari plasma nutfah yang menyimpan keragaman genetik. Keragaman tersebut berpotensi memiliki sifat penting, seperti ketahanan terhadap hama dan penyakit, toleransi terhadap cekaman lingkungan, serta kualitas beras yang baik.
Keberadaan varietas lokal dapat berjalan berdampingan dengan upaya peningkatan produktivitas. Varietas unggul dibutuhkan untuk mendukung produksi pangan, sedangkan varietas lokal tetap dijaga sebagai sumber keragaman genetik.
Keragaman genetik dari varietas lokal juga dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan tanaman. Karena itu, konservasi dilakukan dengan menjaga agar kekayaan genetik tetap terdokumentasi, terlindungi, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut termasuk melalui Project Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI). Program ini menjadi bagian dari upaya menjaga keragaman sumber daya genetik padi lokal agar tetap tersedia untuk pemanfaatan berkelanjutan.
Di balik padi lokal Kapuas terdapat sejarah adaptasi, pengetahuan petani, dan kekayaan genetik yang terbentuk melalui proses panjang. Sumber daya tersebut tidak dapat digantikan dalam waktu singkat.
Mempertahankan padi lokal bukan berarti menolak penggunaan varietas unggul. Keberagaman varietas tetap dijaga, sementara peningkatan produktivitas dilakukan melalui penggunaan varietas unggul dan pengembangan budidaya.
Dengan kondisi tersebut, padi lokal masih memiliki tempat dalam sistem pertanian Kapuas. Pilihan petani dipengaruhi kemampuan varietas beradaptasi dengan lingkungan, karakter beras, serta kebutuhan masyarakat setempat.(*)

Social Footer