![]() |
| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat BRIN Goes to Industry Chapter 5 di Jakarta, Selasa (29/7/2025). |
GENKEBUN.COM – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Biotextile berbahan limbah serbuk sabut kelapa sebagai media penutup lereng untuk membantu reklamasi lahan pascatambang sekaligus mendukung pertumbuhan vegetasi pada lahan yang mengalami degradasi.
Biotextile dirancang untuk membantu mengurangi risiko erosi, menjaga kelembapan tanah, serta menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi pertumbuhan tanaman. Material ini dibuat dalam bentuk keping sehingga lebih mudah mengikuti kontur permukaan tanah dibandingkan material berbentuk lembaran.
Perekayasa Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Nur Hidayat, menjelaskan pengembangan Biotextile memanfaatkan limbah sabut kelapa sebagai solusi untuk mendukung reklamasi dan rehabilitasi lahan terdegradasi. Teknologi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan BRIN Goes to Industry Chapter 5 di Jakarta.
“Biotextile adalah media penutup lereng berbahan limbah organik berbasis serbuk sabut kelapa yang kami kembangkan untuk mendukung reklamasi dan rehabilitasi lahan terdegradasi, khususnya lahan pascatambang,” ujar Nur, dikutip dari laman BRIN.
Biotextile dipasang pada permukaan lereng untuk melindungi tanah dari hantaman langsung air hujan. Selain memperlambat aliran air, material tersebut juga membantu menyerap kelembapan dan menjaga kestabilan tanah selama proses reklamasi berlangsung.
Tidak hanya berfungsi sebagai pelindung lereng, Biotextile juga dirancang sebagai media tanam. Pada setiap keping telah disisipkan benih tanaman beserta nutrisi awal sehingga mendukung pertumbuhan vegetasi pada fase awal, termasuk di lahan yang memiliki lapisan tanah atas terbatas.
“Pada tahap awal pertumbuhan, tanaman membutuhkan lingkungan yang mendukung. Biotextile membantu menjaga kelembapan sekaligus menyediakan media yang lebih baik agar vegetasi dapat tumbuh dan mempercepat proses pemulihan lahan, ” kata Nur, dikutip dari laman BRIN.
Selain diterapkan di kawasan pertambangan, Biotextile juga berpotensi dimanfaatkan pada lereng jalan tol, tebing sungai, kawasan sekitar bendungan, hingga lahan perkebunan yang rentan mengalami erosi sehingga cakupan pemanfaatannya menjadi lebih luas.
Pengujian Biotextile telah dilakukan di sejumlah lokasi, antara lain di area pertambangan PT Adaro Indonesia, PT Borneo Indobara, serta proyek yang melibatkan PT Wijaya Karya dan PT PP. Hasil uji menunjukkan teknologi tersebut mampu mendukung pertumbuhan vegetasi pada lahan dengan kondisi yang cukup ekstrem.
Pemanfaatan limbah sabut kelapa sebagai bahan baku Biotextile sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah komoditas kelapa. Bahan organik tersebut diolah menjadi media penutup lereng yang juga berfungsi mendukung proses revegetasi pada lahan kritis.
Melalui BRIN Goes to Industry, BRIN mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan dunia usaha agar inovasi yang dikembangkan dapat diadopsi secara lebih luas. Biotextile menjadi salah satu contoh pemanfaatan bahan baku lokal untuk mendukung reklamasi lahan serta pengelolaan lingkungan dan infrastruktur.(*)

Social Footer