![]() |
| (Foto: Kementan- Genkebun.com) |
Jakarta, GENKEBUN.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) menerapkan teknologi rorak dan biopori sebagai langkah strategis mengantisipasi musim kemarau. Teknologi konservasi air ini bertujuan menjaga ketersediaan cadangan air tanah pada lahan perkebunan.
Langkah mitigasi ini menyasar berbagai komoditas strategis nasional seperti kopi, kakao, kelapa sawit, hingga tebu yang rentan terhadap kekeringan. Pemerintah mengandalkan teknik ini untuk menahan laju aliran permukaan serta meningkatkan daya infiltrasi air.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa pemerintah mengedepankan strategi budidaya adaptif untuk menjaga stabilitas produksi nasional. Hal ini mencakup penggunaan benih unggul serta pemberian pendampingan teknis secara intensif bagi seluruh pekebun Indonesia.
“Mitigasi terus diperkuat melalui budidaya adaptif, penggunaan benih unggul tahan kering, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” ujar Amran Sulaiman, dikutip dari laman Kementan, Kamis (16/04/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menekankan pentingnya menjaga resiliensi subsektor perkebunan. Pengelolaan kebun yang tangguh menjadi fondasi utama dalam menopang struktur ekonomi nasional di tengah tantangan perubahan iklim global.
“Menjaga kebun hari ini berarti menjaga ekonomi dan masa depan Indonesia. Perkebunan tangguh, Indonesia kuat,” ujarnya saat memberikan keterangan teknis mengenai kesiapan menghadapi musim kering tahun anggaran 2026 yang sedang berjalan.
Implementasi rorak atau lubang jebakan air secara teknis berfungsi menampung sedimen dan air hujan agar tidak terbuang sia-sia. Selain rorak, Kementan memasifkan beberapa instrumen pendukung pengendalian kemarau pada level tapak perkebunan:
Pembangunan sekat kanal pada lahan gambut untuk menjaga kelembapan.
Pembentukan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun).
Pengembangan demplot mitigasi dan adaptasi iklim di pusat kebun percontohan.
Pekebun juga diinstruksikan melakukan efisiensi pemupukan serta pemantauan rutin terhadap potensi serangan organisme pengganggu tumbuhan. Penggunaan pupuk organik menjadi anjuran utama guna memperbaiki struktur tanah agar memiliki kemampuan mengikat air lebih baik.
Seorang pekebun binaan kementerian menyatakan bahwa pemahaman mengenai pola tanam ramah lingkungan sangat membantu dalam menghadapi cuaca ekstrem. Kesadaran pekebun dalam mengelola sumber daya air secara mandiri merupakan kunci keberhasilan sektor ini.
“Bagi kami, kebun adalah masa depan. Saat kemarau datang lebih lama, kami harus lebih pintar mengatur pola tanam dan menjaga ketersediaan air. Dengan pola tanam yang adaptif dan ramah lingkungan, kami siap menjaga perkebunan Indonesia tetap tangguh menghadapi tantangan iklim dunia,” ujarnya.
Program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB) menjadi bagian integral dari strategi keselamatan lahan guna mencegah bencana kebakaran. Pemerintah melibatkan Kelompok Tani Peduli Api untuk melakukan pengawasan melekat pada wilayah rawan selama masa transisi iklim.
Kesiapsiagaan infrastruktur air dan kedisiplinan pekebun dalam menerapkan teknologi konservasi tanah memastikan produksi komoditas perkebunan tetap stabil. Keberhasilan mitigasi ini akan berdampak langsung pada ketahanan ekonomi petani serta pemenuhan target ekspor nasional.

Social Footer