Breaking News

28 Persen Areal Kopi RI Berpotensi Kering, Kementan Petakan Sentra Perkebunan yang Perlu Diwaspadai

Direktorat Jenderal Perkebunan dalam pemetaan kondisi iklim areal kopi

GENKEBUN.COM, – Sekitar 28 persen areal kopi yang berada di wilayah pemetaan berpotensi mengalami kondisi kering pada September-November 2026 berdasarkan prediksi kondisi iklim yang dihimpun pemerintah.

Potensi tersebut tercatat dalam pemetaan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) terhadap areal kopi nasional. Angka itu belum menunjukkan luas tanaman kopi yang mengalami kerusakan akibat kekeringan.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan, Heru Tri Widaryo, menyebut potensi kekeringan masih berkaitan dengan perkembangan curah hujan, ketersediaan air, karakteristik lahan, serta kemampuan kebun menghadapi periode kering.

“Angka tersebut merupakan potensi berdasarkan kondisi atau prediksi iklim dan bukan luas tanaman kopi yang sudah mengalami kerusakan akibat kekeringan ,” ujar Heru, dikutip dari laman majalahhortus.

Secara nasional, luas areal kopi pada 2026 diperkirakan mencapai 1,28 juta hektare. Dari jumlah itu, 187.794 hektare merupakan tanaman belum menghasilkan (TBM), 977.799 hektare tanaman menghasilkan (TM), dan 115.898 hektare tanaman tidak menghasilkan atau tanaman rusak.

Sejumlah sentra kopi masuk dalam pemetaan potensi kekeringan. Wilayah tersebut mencakup Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Bali, Banten, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Sampai dengan saat ini belum ada laporan terdampak kekeringan pada kebun kopi di sentra kopi,,” ujar Heru. Pemetaan tersebut mencakup sejumlah daerah sentra kopi di berbagai wilayah Indonesia yang masuk dalam perkiraan kondisi kering.

Di tingkat kebun, Direktorat Jenderal Perkebunan mendorong penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang adaptif terhadap perubahan iklim, termasuk konservasi tanah dan air, pengelolaan tanaman penaung, serta pemanfaatan bahan organik.

Penerapan tersebut juga mencakup rorak dan lubang biopori untuk meningkatkan infiltrasi sekaligus mempertahankan air di dalam tanah. Tanaman penaung dikelola untuk menjaga mikroklimat dan mengurangi kehilangan air.

Pemerintah juga memperkuat diseminasi, sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kepada pekebun serta petugas. Informasi prakiraan iklim dan kondisi aktual digunakan untuk mengenali wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

Untuk komoditas kopi, dukungan yang tersedia mencakup benih varietas adaptif terhadap perubahan iklim di sentra produksi. Pemerintah juga menyediakan benih dan pupuk organik bagi perkebunan kopi terdampak bencana di Sumatera untuk membantu proses pemulihan.(*)

Type and hit Enter to search

Close