Breaking News

Pengairan Basah-Kering Jadi Solusi Saat Musim Kemarau

 Pemantauan ketinggian muka air pada lahan sawah menggunakan sistem pengairan basah-kering (AWD) saat musim kemarau.(Foto: Ilustrasi)

GENKEBUN.COM – Musim kemarau berpotensi mengurangi ketersediaan air untuk lahan pertanian sehingga pengelolaan irigasi menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas tanaman. Salah satu metode yang dapat diterapkan ialah sistem pengairan basah-kering atau alternate wetting and drying (AWD).

Menurunnya persediaan air tanah dan debit sungai selama musim kemarau dapat memengaruhi ketersediaan air bagi tanaman. Kondisi tersebut membuat pengelolaan pengairan yang disesuaikan dengan kebutuhan lahan menjadi bagian penting untuk menjaga pasokan air selama masa budidaya.

Dilansir dari laman Kementan RI, pengairan basah-kering atau alternate wetting and drying (AWD) mampu menghemat penggunaan air pada padi sawah hingga 20 persen. Sistem ini diterapkan melalui siklus penggenangan dan pengeringan lahan secara terukur sesuai kebutuhan tanaman.

AWD merupakan pengembangan dari sistem irigasi berselang (intermittent irrigation). Berbeda dengan irigasi berselang biasa, pemberian air pada sistem ini dilakukan dalam siklus penggenangan dan pengeringan yang terukur berdasarkan kondisi permukaan air tanah.

Metode tersebut sesuai diterapkan pada lahan sawah dengan pasokan air yang terbatas. Pengairan dilakukan secara bergantian antara kondisi tergenang dan kering dengan pengukuran yang praktis sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien.

Selain menghemat penggunaan air, penerapan AWD juga memberi manfaat bagi tanaman dan kondisi lahan. Pengaturan air secara bergantian membantu menciptakan lingkungan tumbuh yang lebih baik selama masa pertumbuhan padi.

Beberapa manfaat penerapan AWD meliputi:

  • Menghemat penggunaan air hingga 20 persen.

  • Memberikan kesempatan akar memperoleh udara sehingga dapat tumbuh lebih dalam.

  • Mengurangi emisi gas metana, karbon dioksida, dan nitrogen dioksida.

  • Menghambat perkembangan hama.

  • Mengurangi potensi keracunan tanaman akibat kandungan besi dalam tanah.

Penerapan AWD dapat dimulai sejak fase tanam hingga sekitar satu minggu sebelum tanaman memasuki fase pembungaan. Selama periode tersebut, kondisi permukaan air tanah dipantau secara berkala sebagai acuan pemberian air berikutnya.

Sawah mulai diairi kembali ketika permukaan air tanah berada lebih dari 15 sentimeter di bawah permukaan tanah. Pemantauan dilakukan menggunakan alat sederhana berupa paralon berlubang yang dibenamkan ke dalam tanah.

Alat pengontrol air AWD dipasang pada bagian lahan yang paling tinggi dan tidak jauh dari pematang sawah. Penempatan tersebut bertujuan memudahkan pengamatan terhadap perubahan tinggi muka air selama budidaya.

Tahapan pembuatan alat pengontrol air meliputi pemotongan paralon sepanjang 35 sentimeter, pembuatan lubang berdiameter lima milimeter dengan jarak dua sentimeter, kemudian memasang mistar pada kedua sisi paralon untuk mengukur tinggi muka air.

Memasuki fase pembungaan, ketinggian air dipertahankan sekitar tiga hingga lima sentimeter dari permukaan tanah. Pengaturan tersebut dilakukan agar kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi pada fase pertumbuhan tersebut.

Sementara itu, saat pemupukan, kondisi lahan dibuat macak-macak atau hanya digenangi sedikit air sehingga tanah tetap basah, becek, atau berlumpur tanpa genangan yang tinggi. Kondisi ini sesuai dengan penerapan AWD pada fase pemupukan.

Penerapan AWD menjadi salah satu pilihan pengelolaan pengairan pada musim kemarau, terutama di lahan dengan ketersediaan air terbatas. Melalui pengaturan air yang terukur, penggunaan air dapat lebih efisien sekaligus mendukung keberlanjutan budidaya padi.(*)

Type and hit Enter to search

Close