Breaking News

Punya 78 Ribu Hektare Kebun Kakao, Kolaka Utara Didorong Masuk Pasar Ekspor Global

Kolaka Utara, GENKEBUN.COM – Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI) mendorong pengembangan potensi perkebunan di Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, menjadi industri pengolahan komoditas berbasis ekspor global melalui fasilitasi forum investasi khusus di Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (11/5/2026).

Pemerintah pusat menilai wilayah tersebut memiliki peluang besar untuk bertransformasi melalui hilirisasi komoditas unggulan demi meningkatkan pendapatan daerah.

Dilansir dari laman Pemkab Kolaka Utara, Minggu (17/05/2026), luas kebun kakao di Kabupaten Kolaka Utara kini mencapai 78.966 hektare dengan total volume produksi komoditas tersebut menyentuh angka 58.858 ton per tahun.

Sebaran lahan tanaman kakao berada di hampir seluruh wilayah administrasi kecamatan dengan konsentrasi terbesar berada di bagian tengah serta selatan.

Beberapa wilayah kecamatan yang menjadi sentra produksi utama komoditas perkebunan tersebut meliputi Kecamatan Ngapa, Kecamatan Kodeoha, dan Kecamatan Pakue.

Pemerintah pusat menetapkan target nilai ekspor nasional untuk komoditas sektor agro hingga tahun 2029 mendatang mencakup angka-angka strategis sebagai berikut:

  • Nilai ekspor komoditas kakao ditargetkan menembus angka USD 3,57 miliar.

  • Nilai ekspor komoditas kelapa ditargetkan mencapai angka USD 3,50...

  • Nilai ekspor komoditas kopi ditargetkan menyentuh angka USD 818,5 juta.

Selain kakao, wilayah ini menyimpan potensi komoditas kelapa seluas 3.906 hektare yang menghasilkan produksi sebesar 4.545 ton dengan sebaran merata.

Kecamatan Ranteangin dan Kecamatan Wawo menjadi wilayah dengan konsentrasi tanaman kelapa paling besar di kabupaten yang berada di Pulau Sulawesi tersebut.

Sektor komoditas kopi juga mulai memperlihatkan potensi pengembangan yang baik lewat kepemilikan luas lahan perkebunan rakyat sebesar 387 hektare.

Lahan kopi tersebut mampu menghasilkan volume produksi sebanyak 182 ton per tahun yang terkonsentrasi di Kecamatan Pakue dan Kecamatan Porehu.

Secara nasional, sektor industri agro mencatat pertumbuhan sebesar 4,95 persen pada tahun 2025 dengan kontribusi 52,09 persen terhadap industri pengolahan nonmigas.

Sektor agro nasional juga mencatatkan angka surplus neraca perdagangan sebesar USD 9,84 miliar sepanjang periode bulan Januari sampai bulan Februari tahun 2026.

Industri ini mampu menyerap sebanyak 10 juta tenaga kerja hingga Agustus 2025 serta membukukan realisasi investasi Rp40,08 triliun pada triwulan pertama 2026.

Pemerintah pusat mengimplementasikan sejumlah langkah strategis guna meningkatkan daya saing melalui program Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) dengan rincian langkah berupa:

  • Jaminan pasokan bahan baku lewat kebijakan neraca komoditas.

  • Pembangunan kemitraan antara sektor hulu dan sektor hilir.

  • Pemanfaatan sistem teknologi industri 4.0 secara terintegrasi.

  • Restrukturisasi mesin produksi dan penerapan teknologi ramah lingkungan.

Pemerintah pusat mengombinasikan program SBIN dengan penyediaan insentif fiskal berupa tax holiday, tax allowance, serta fasilitas harga gas bumi tertentu bagi sektor industri prioritas.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dilakukan lewat program Cocoa Doctor, pelatihan manajer transformasi industri, hingga program pendidikan vokasi berbasis industri perkebunan.(*)

Type and hit Enter to search

Close