Breaking News

Perkebunan Jadi Fondasi Energi Baru, Mentan Amran Dorong Komoditas Naik Kelas

(Foto: Kementan- Genkebun.com)

Jakarta, GENKEBUN.COM – Pemerintah mempercepat hilirisasi sektor perkebunan sebagai strategi besar guna memperkuat kemandirian energi nasional melalui peningkatan nilai tambah komoditas domestik di tengah tekanan global dan ketergantungan bahan bakar fosil.

Subsektor perkebunan kini diposisikan sebagai fondasi penting dalam rantai pasok energi baru berbasis sumber daya lokal. Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan nasional untuk melakukan transformasi ekonomi melalui penguatan industri pengolahan produk hilir.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa paradigma pembangunan perkebunan nasional saat ini berpindah fokus menuju pengolahan hasil panen yang memiliki nilai jual tinggi guna mendukung kedaulatan energi serta pangan negara.

“Hasil perkebunan harus naik kelas. Tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi, termasuk bioenergi. Ini bagian dari upaya kita memperkuat kemandirian dan kedaulatan energi nasional, sebagaimana arahan Bapak Presiden” ujar Mentan Amran, dikutip dari laman Kementan, Sabtu (02/05/2026).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, memberikan penjelasan mengenai dampak luas dari kebijakan pengolahan di dalam negeri terhadap struktur ekonomi nasional, penciptaan lapangan kerja baru, serta tingkat pendapatan masyarakat tani.

“Hilirisasi perkebunan akan menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri berbasis komoditas, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan pekebun. Ini menjadi kunci dalam mendorong transformasi ekonomi nasional,” jelas Ali Jamil.

Sejumlah komoditas strategis nasional kini menjadi tulang punggung dalam pengembangan bahan bakar nabati guna memperkuat bauran energi nasional. Pemanfaatan sumber daya lokal ini menjadi faktor krusial untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan impor.

  • Kelapa sawit dikembangkan sebagai bahan baku utama pembuatan biodiesel secara nasional.

  • Tebu, jagung, dan singkong menjadi komoditas pilihan untuk pengembangan produksi bioetanol.

  • Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dipercepat guna menjamin stabilitas pasokan bahan baku industri.

Ali Jamil menambahkan keterangan mengenai rencana koordinasi antarlembaga pemerintah di masa mendatang guna menjamin ketersediaan stok bahan mentah bagi industri bioenergi nasional agar berjalan stabil tanpa hambatan pasokan di pasar.

“Ke depan, sinergi lintas sektor akan terus diperkuat, baik dari sisi hulu, industri pengolahan, hingga kebijakan energi. Tujuannya memastikan kesinambungan pasokan bahan baku serta optimalisasi pengembangan industri bioenergi nasional, termasuk biodiesel dari kelapa sawit dan bioetanol dari tebu,” kata Ali Jamil.

Pemerintah juga mendorong perluasan areal tanam tebu hingga 200.000 hektare di seluruh wilayah Indonesia melalui program bongkar ratoon. Langkah tersebut bertujuan mewujudkan swasembada gula nasional serta memenuhi kebutuhan bahan baku bioetanol domestik.

Pembenahan sistem informasi serta data perkebunan menjadi prioritas utama guna mendukung perencanaan yang presisi. Integrasi dari sisi produksi hingga pengolahan menciptakan pertumbuhan ekonomi inklusif melalui sertifikasi keberlanjutan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).(*)

Type and hit Enter to search

Close