Teknologi inovatif ini mencakup proses ekstraksi nira dari batang sorgum manis hingga menjadi kristal gula berkualitas tinggi secara efisien. Pengembangan mesin pengolah bertujuan menyediakan alternatif pemanis sehat bagi masyarakat luas.
Dilansir dari laman BRMP, Senin (13/04/2026), hasil uji coba menunjukkan efisiensi ekstraksi nira meningkat sebesar 30 persen dengan kadar kemurnian sukrosa mencapai standar industri pangan nasional melalui sistem filtrasi bertingkat.
Penerapan sistem terintegrasi ini memungkinkan pengolahan biomassa sorgum dilakukan tanpa menghasilkan limbah karena seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan. Ampas batang sorgum hasil perasan nira diolah kembali menjadi bahan pakan ternak.
Berikut adalah beberapa komponen utama dalam teknologi pengolahan gula sorgum yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun ini:
Unit penggilingan batang sorgum otomatis dengan kapasitas satu ton per jam.
Sistem pemurnian nira menggunakan teknologi membran keramik tahan panas.
Reaktor kristalisasi suhu rendah guna menjaga kandungan nutrisi alami pada gula.
Badan Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP) memberikan pendampingan teknis kepada kelompok tani mengenai tata cara budidaya sorgum manis yang tepat. Pemilihan varietas sangat menentukan kualitas nira yang dihasilkan oleh batang tanaman tersebut.
Budidaya sorgum memiliki keunggulan pada daya adaptasi yang tinggi terhadap lahan kering maupun minim pemupukan kimia. Tanaman ini menjadi solusi strategis bagi wilayah yang kesulitan mendapatkan pasokan air untuk tanaman tebu.
Penggunaan gula sorgum sebagai pengganti gula pasir mulai diperkenalkan pada industri skala kecil dan menengah di berbagai daerah. Kandungan indeks glikemik yang lebih rendah menjadikannya pilihan pemanis yang lebih sehat.
Proses produksi gula sorgum terintegrasi ini dirancang sedemikian rupa agar dapat dioperasikan secara mandiri oleh koperasi petani di pedesaan. Berikut adalah manfaat ekonomi dari implementasi teknologi pengolahan terpadu tersebut:
Pengurangan biaya logistik karena pengolahan nira dilakukan langsung di area perkebunan.
Peningkatan nilai jual produk turunan sorgum melalui diversifikasi hasil panen.
Penciptaan lapangan kerja baru pada sektor industri pengolahan pangan lokal.
Data mengenai luas tanam sorgum nasional menunjukkan tren kenaikan positif seiring ketersediaan infrastruktur pengolahan yang semakin modern. Sinergi antara peneliti serta pelaku usaha mempercepat komersialisasi produk pemanis non-tebu tersebut.
Pemerintah daerah memberikan fasilitas perizinan bagi pembangunan pabrik gula sorgum skala komunitas guna menjamin stabilitas stok pemanis. Pengawasan terhadap standar keamanan pangan dilakukan secara ketat untuk melindungi kesehatan konsumen di Indonesia.
Distribusi mesin pengolah gula dilakukan secara bertahap ke sentra produksi sorgum utama di wilayah Indonesia Timur. Langkah ini merupakan bagian dari peta jalan besar pemerintah dalam mengurangi ketergantungan impor gula putih.
Kualitas kristal gula sorgum hasil inovasi BRIN telah memenuhi persyaratan teknis untuk digunakan sebagai bahan baku industri minuman. Keberhasilan riset ini menempatkan Indonesia sebagai pionir dalam pengembangan pemanis berbasis tanaman biji-bijian.
Evaluasi berkala terhadap performa mesin pengolah di lapangan menjamin efektivitas produksi tetap berada pada level optimal. Inovasi teknologi nasional ini membuktikan kemampuan anak bangsa dalam menciptakan solusi mandiri bagi ketahanan pangan.(*)

Social Footer