![]() |
| (Foto: Gmini- Genkebun.com) |
Jawa Timur, GENKEBUN.COM – Masyarakat Desa Kronto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, menggelar puncak selamatan desa di Halaman Balai Desa Kronto pada Minggu (12/4/2026) dengan menyajikan gunungan berisi sekitar 1.000 buah durian lokal.
Jumlah durian yang dikirab tahun ini mengalami penurunan sangat signifikan jika dibandingkan periode sebelumnya. Pada pelaksanaan tahun lalu, warga sanggup menyusun hingga 5.000 buah durian untuk menjadi gunungan utama acara tersebut.
Kepala Desa (Kades) Kronto, Sodin, menjelaskan alasan pergeseran jadwal pelaksanaan kegiatan tahunan ini. Tradisi yang biasanya terlaksana pada bulan Ruwah atau sebelum masuk masa Ramadan terpaksa mengalami penyesuaian waktu pelaksanaan.
"Biasanya ruwah, sebelum puasa, karena mepet akhirnya diundur jadi sekarang ini," ujar Sodin, dikutip dari laman Kominfo, Minggu (12/4/2026).
Selain gunungan utama, kemeriahan acara juga didukung oleh partisipasi aktif dari setiap Rukun Tetangga (RT). Sebanyak 22 ancak berisi aneka hasil bumi dibawa keliling desa sebelum akhirnya diperebutkan oleh seluruh warga.
"Setiap satu RT membawa satu ancak. Isinya bebas, yang penting hasil bumi di Lumbang atau khasnya Kabupaten Pasuruan," ucap Sodin menjelaskan rincian partisipasi warga dalam menyukseskan agenda tahunan tersebut.
Penurunan drastis ketersediaan buah dalam gunungan dipicu oleh kendala teknis pada lahan perkebunan warga. Sodin mengungkapkan bahwa produktivitas tanaman sedang berada pada titik rendah akibat beberapa faktor alam yang tidak mendukung:
Serangan penyakit pada pohon durian milik warga.
Tingginya curah hujan yang menyebabkan bunga tanaman rontok.
Kegagalan pohon untuk memproduksi buah secara maksimal.
Kondisi cuaca ekstrem selama masa pembungaan menjadi penyebab utama rontoknya bakal buah di wilayah Lumbang. Meski jumlah durian menyusut, semangat warga untuk mendukung Pemerintah Desa (Pemdes) Kronto dalam melestarikan tradisi tetap terlihat tinggi.
Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo, hadir memberikan apresiasi terhadap langkah pemdes dalam menjaga warisan budaya. Pihaknya memberikan pesan agar tradisi ini terjaga meski tantangan sektor pertanian akibat anomali cuaca semakin berat.
"Harapannya, semoga desa kronto menjadi desa yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur. Warganya damai, aman sentosa dan selamat, tanamannya semakin subur dan buahnya semakin melimpah biar tahun depan bisa lebih meriah lagi," ungkap Rusdi.
Rangkaian selamatan desa ini berlangsung selama dua hari berturut-turut dengan khidmat. Hari pertama dimulai dengan kegiatan khataman Al-Qur'an yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa serta tahlil bersama seluruh masyarakat desa.
Kegiatan hari kedua menjadi puncak acara berupa tasyakuran massal dengan kehadiran gunungan durian sebagai simbol rasa syukur. Pelaksanaan tradisi ini berakhir dengan tertib saat warga mulai memperebutkan isi ancak hasil bumi.

Social Footer