Langkah strategis ini diambil guna mengurangi ketergantungan daerah pada penjualan biji kakao mentah yang harganya sangat fluktuatif di pasar global. Transformasi industri tersebut melibatkan pembangunan pabrik pengolahan skala menengah di sentra produksi.
Dilansir dari laman BRMP, Selasa (03/03/2026), data menunjukkan bahwa volume produksi kakao di wilayah Sulawesi Barat (Sulbar) mencapai angka seratus ribu ton per tahun dengan potensi nilai tambah meningkat tiga kali lipat jika diproses.
Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) melakukan kajian teknis mengenai kesiapan infrastruktur pendukung industri hilir tersebut. Kajian ini mencakup ketersediaan energi listrik stabil dan akses jalan distribusi dari lahan perkebunan rakyat menuju lokasi pabrik.
Pengembangan industri pengolahan lokal ini akan memfokuskan pada produksi lemak cokelat, bubuk cokelat, serta makanan olahan berbasis kakao. Berikut merupakan poin-poin utama dalam peta jalan hilirisasi komoditas unggulan di wilayah Sulawesi Barat (Sulbar):
Penguatan kapasitas kelompok tani dalam melakukan proses fermentasi biji kakao sesuai standar industri.
Pemberian bantuan alat mesin pertanian serta teknologi pengolahan pascapanen bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah.
Fasilitasi kemitraan strategis antara petani lokal dengan perusahaan industri pengolahan makanan berskala nasional dan internasional.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Barat (Sulbar) menilai bahwa pengolahan mandiri di dalam daerah akan membuka lapangan kerja baru bagi ribuan tenaga kerja lokal. Efek domino ekonomi ini menjadi solusi efektif untuk menekan angka pengangguran.
Kualitas biji kakao asal wilayah ini sebenarnya memiliki keunggulan karakteristik rasa yang unik dibandingkan daerah lain. Namun, selama ini potensi tersebut hanya dimanfaatkan oleh pihak luar karena minimnya fasilitas pemrosesan akhir di daerah.
Penerapan teknologi fermentasi menjadi syarat mutlak bagi para petani agar produk mereka dapat diserap oleh unit pengolahan hasil tersebut. Standardisasi mutu ini akan dipantau ketat oleh dinas terkait guna menjaga kualitas produk ekspor.
Penurunan volume pengiriman biji kakao mentah menuju pelabuhan luar daerah secara bertahap.
Peningkatan nilai pendapatan asli daerah melalui pajak sektor industri pengolahan makanan dan minuman.
Penciptaan merek dagang cokelat asli daerah yang memiliki daya saing kuat di pasar ritel nasional.
Proses hilirisasi ini juga mencakup edukasi pemasaran bagi para pelaku industri kreatif di tingkat kabupaten. Inovasi kemasan serta strategi pemasaran digital menjadi faktor penentu keberhasilan produk cokelat lokal dalam menarik minat konsumen perkotaan.
Pemerintah pusat melalui kementerian terkait memberikan dukungan berupa insentif pajak bagi investor yang bersedia membangun fasilitas pemurnian lemak kakao. Insentif ini menjadi daya tarik utama untuk mempercepat masuknya modal asing ke wilayah tersebut.
Koordinasi antar instansi pemerintah daerah dilakukan secara intensif guna memastikan seluruh regulasi pendukung sejalan dengan aturan investasi nasional. Kepastian hukum menjadi fondasi utama bagi terciptanya iklim industri yang sehat dan berkelanjutan di masa depan.
Upaya serius ini menempatkan Sulawesi Barat (Sulbar) sebagai pelopor hilirisasi komoditas perkebunan di wilayah timur Indonesia. Keberhasilan program ini akan menjadi tolok ukur bagi daerah lain dalam mengelola kekayaan sumber daya alam secara mandiri.(*)

Social Footer