Breaking News

Ubah Limbah Jadi Cuan, Pesisir Barat Mulai Produksi Coco Peat Skala Industri

(Foto:PEMKAB)

Pesisir Barat, GENKEBUN.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesisir Barat mulai memproduksi serbuk sabut kelapa atau coco peat skala industri guna mengoptimalkan potensi limbah kelapa yang melimpah di wilayah pesisir Lampung pada Rabu (25/02/2026).

Langkah inovatif ini bertujuan mengubah sisa pengolahan kelapa yang sebelumnya tidak terpakai menjadi produk ekspor bernilai tinggi. Fasilitas pengolahan kini telah beroperasi secara penuh dengan dukungan mesin teknologi modern untuk memenuhi permintaan pasar global.

Potensi bahan baku di Pesisir Barat sangat besar mengingat luas perkebunan kelapa rakyat yang mencapai ribuan hektare. Produksi massal ini diproyeksikan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) secara signifikan.

Bupati Pesisir Barat menjelaskan transformasi pengelolaan limbah tersebut saat meresmikan pusat pengolahan sabut kelapa. Beliau menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk menciptakan nilai tambah bagi seluruh lapisan masyarakat petani kelapa di daerah tersebut.

“Melalui kerja sama ini, kita ingin mengubah paradigma tersebut. Sabut kelapa bukan lagi dianggap sebagai limbah, tetapi sebagai bahan baku industri bernilai ekonomi tinggi,” ujar Septi, dikutip dari laman PEMKAB, Rabu (25/02/2026).

Pemerintah daerah menjalin kemitraan strategis dengan investor swasta untuk menjamin ketersediaan pasar dan standar kualitas produk. Skema kerja sama ini mencakup pendampingan teknis bagi kelompok tani dalam mengumpulkan serta mengolah bahan baku awal.

Berikut adalah beberapa spesifikasi produksi dan manfaat dari industri coco peat di Pesisir Barat:

  • Kapasitas produksi mesin mencapai lima ton per hari untuk tahap awal operasional.

  • Produk akhir memiliki standar kadar air rendah yang sesuai dengan kriteria pasar internasional.

  • Pengurangan volume limbah padat di lingkungan perkebunan dan area pemukiman warga pesisir.

Selain coco peat, pabrik tersebut juga menghasilkan serat sabut kelapa atau coco fiber yang banyak dibutuhkan industri otomotif dan furnitur. Diversifikasi produk ini memperkuat posisi Pesisir Barat sebagai penyedia material ramah lingkungan.

Sistem logistik pengiriman barang telah disiapkan melalui jalur darat menuju pelabuhan besar untuk proses ekspor. Koordinasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Diskopdag) dilakukan guna memantau kelancaran arus barang.

Para petani kelapa kini mulai mengumpulkan sabut yang biasanya dibakar atau dibuang ke laut. Pihak pabrik memberikan harga beli yang kompetitif sehingga memberikan suntikan dana segar bagi rumah tangga petani di pedesaan.

Data Diskopdag menunjukkan tren permintaan media tanam organik berbahan sabut kelapa meningkat tajam di wilayah Eropa dan Asia Timur. Hal ini menjadi peluang besar bagi keberlanjutan operasional pabrik dalam jangka panjang.

Pembangunan gudang penyimpanan tambahan saat ini sedang berlangsung di area sekitar pabrik untuk mengantisipasi lonjakan stok. Fasilitas tersebut direncanakan selesai pada akhir kuartal kedua tahun ini guna mendukung kelancaran distribusi barang.(*)

Type and hit Enter to search

Close