Breaking News

Riset Dosen DTPB UGM: Biochar Sawit Jadi Kunci Peningkatan Kapasitas Tukar Kation Tanah

(Foto:TPB)

Pangkalan Bun, GENKEBUN.COM – Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Universitas Gadjah Mada (UGM) mempublikasikan hasil riset terbaru mengenai penggunaan arang hayati (biochar) dari limbah kelapa sawit di Kalimantan Tengah.

Penelitian ilmiah tersebut fokus pada pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku utama pembuatan arang hayati. Inovasi ini bertujuan memperbaiki struktur fisik dan kimia tanah yang mengalami degradasi unsur hara.

Dilansir dari laman TPB, Sabtu (28/02/2026), data menunjukkan penggunaan arang hayati mampu meningkatkan nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah hingga mencapai 40 persen dibandingkan dengan lahan tanpa aplikasi pembenah tanah organik.

Peningkatan nilai KTK tersebut memberikan indikasi bahwa tanah memiliki kemampuan lebih baik dalam mengikat nutrisi penting. Unsur hara seperti kalium, kalsium, dan magnesium menjadi tidak mudah tercuci oleh air hujan yang tinggi.

Berikut merupakan beberapa keunggulan teknis dari hasil aplikasi arang hayati kelapa sawit yang ditemukan selama proses pengujian laboratorium dan lapangan oleh tim peneliti Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB):

  • Stabilitas karbon dalam tanah bertahan untuk jangka waktu yang sangat lama.

  • Peningkatan porositas tanah yang mendukung perkembangan sistem perakaran tanaman secara optimal.

  • Reduksi tingkat keasaman tanah pada lahan marginal yang selama ini sulit ditanami.

Metode pembuatan arang hayati dilakukan melalui proses pirolisis atau pembakaran tanpa oksigen pada suhu terkontrol. Proses teknis ini memastikan kandungan karbon tetap terjaga dan membentuk struktur pori mikro yang sangat luas.

Pori mikro pada arang hayati berfungsi sebagai tempat tinggal bagi mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Keberadaan mikroba tersebut secara alami membantu proses dekomposisi bahan organik lain di dalam lapisan olah tanah.

Aplikasi praktis dari riset DTPB UGM ini menyasar wilayah perkebunan dengan kondisi tanah podsolik merah kuning. Jenis tanah tersebut secara umum memiliki kendala berupa kandungan bahan organik rendah dan nilai KTK minim.

Efektivitas penggunaan limbah kelapa sawit sebagai bahan baku arang hayati juga memberikan solusi bagi manajemen sisa hasil produksi pabrik. Limbah yang sebelumnya menumpuk kini memiliki nilai tambah ekonomi serta manfaat ekologis.

Data tambahan dalam laporan penelitian menyebutkan bahwa retensi air di dalam tanah meningkat secara signifikan setelah pencampuran arang hayati. Hal ini sangat membantu tanaman bertahan menghadapi kondisi stres kekeringan pada musim kemarau.

  • Kandungan karbon organik total dalam tanah mengalami kenaikan yang terukur secara periodik.

  • Biaya pemupukan kimia berpotensi berkurang karena efisiensi penyerapan nutrisi oleh tanaman menjadi lebih maksimal.

Implementasi teknologi arang hayati mendukung sistem pertanian berkelanjutan yang meminimalkan penggunaan input kimia secara berlebihan. Pola ini menjaga kualitas lingkungan hidup di sekitar area konsesi perkebunan kelapa sawit dalam jangka panjang.

Riset ini menjadi acuan teknis bagi para pelaku industri perkebunan dalam mengelola kesuburan tanah secara mandiri. Pemanfaatan teknologi tepat guna berbasis limbah lokal menjadi strategi utama dalam menjaga produktivitas komoditas kelapa sawit nasional.(*)

Type and hit Enter to search

Close