![]() |
| Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaksanakan panen raya padi serentak di Desa Jambu Kabupaten Semarang pada Kamis (26/02/2026). |
Semarang, GENKEBUN.COM – Provinsi Jawa Tengah (Jateng) memulai panen raya padi serentak di 35 kabupaten/kota yang dipusatkan di Desa Jambu, Kabupaten Semarang, guna mengejar target swasembada pangan pada periode Januari-Maret 2026.
Gubernur Ahmad Luthfi memimpin langsung pemanenan simbolis dengan memperkenalkan mekanisasi sistem sepur yang mampu memangkas waktu kerja petani secara signifikan hingga 90 persen jika dibandingkan dengan metode pengolahan lahan secara manual.
Dalam kesempatan tersebut, Luthfi memberikan instruksi kepada Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jateng untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah serta mengawal seluruh proses produksi dari hulu hingga ke hilir.
“Konektivitas dengan 35 kabupaten/ kota dalam mempertahankan lahan, mekanisasi terkait alat, serta tidak kalah pentingnya adalah Gapoktan, kita openi dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen,” ujar Luthfi, dikutip dari laman Jateng Prov, Kamis (26/02/2026).
Kepala Distanak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan teknis sistem sepur yang melibatkan combine harvester, mesin pengolah tanah, drone penyiram dekomposer, hingga rice transplanter yang bekerja secara berurutan dalam satu waktu sekaligus.
“Saking berurutan seperti sepur atau kereta. Ini mempersingkat waktu. Jadi panen-tanam, panen-tanam. Sistem ini untuk optimalisasi lahan. Petani di sini sudah kami latih,” kata Defransisco menjelaskan cara kerja mekanisasi tersebut di lapangan.
Penerapan teknologi ini terbukti efektif meningkatkan efisiensi kerja di atas lahan persawahan. Berikut adalah rincian perbandingan performa antara penggunaan sistem sepur dengan metode pengolahan lahan konvensional yang dilakukan secara manual:
Waktu pengerjaan lahan seluas 2 hektare hanya membutuhkan waktu satu hari.
Pengerjaan manual untuk luas lahan serupa biasanya memakan waktu hingga 10 hari.
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi padi periode Januari-Maret 2026 mencapai 3,35 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka ini menunjukkan kenaikan 14 persen daripada pencapaian pada periode yang sama tahun lalu.
Defransisco menambahkan bahwa selain aspek kecepatan, kualitas hasil panen juga menjadi indikator keberhasilan program. Pihaknya telah melakukan pengambilan sampel ubinan untuk memastikan produktivitas gabah di wilayah Desa Jambu tetap berada pada level optimal.
“Ubinan juga sudah kami lakukan dengan ukuran 25 meter persegi, hasil rata-rata 6 ton per kotak ubinan. Jika maksimal, satu hektare bisa mencapai rata-rata 9,6 ton. Ini tergantung dengan irigasi, pemupukan, dan pembibitan juga,” ujarnya.
Target produksi padi Jawa Tengah sepanjang tahun 2026 dipatok sebesar 10,55 juta ton GKG. Jumlah tersebut meningkat sekitar 12,22 persen dari realisasi produksi tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 9,3 juta ton GKG.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini mengejar realisasi sisa target luas tanam padi sebesar 2,38 juta hektare. Hingga pertengahan Februari 2026, tercatat pengerjaan lahan baru mencapai luasan 216.098 hektare di seluruh wilayah kabupaten/kota.(*)

Social Footer