Langkah strategis tersebut diambil guna menciptakan struktur ekonomi baru yang lebih berkelanjutan melalui pengolahan produk turunan. Transformasi ini bertujuan menjaga stabilitas pendapatan daerah saat cadangan sumber daya alam tidak terbarukan mulai menipis.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan pandangan mengenai pentingnya pengalihan fokus pembangunan dari sekadar pengerukan komoditas mentah menuju industri pengolahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi bagi kesejahteraan masyarakat lokal dan pendapatan daerah.
“Kita punya kekayaan alam yang melimpah, dari hutan hingga ekosistem pesisir. Namun, tantangan kita adalah bagaimana mengubah kekayaan ini menjadi ekonomi produktif melalui hilirisasi. Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada penjualan bahan mentah,” ujar Ardiansyah, dikutip dari laman kutaitimurkab, Senin (23/02/2026).
Pemerintah daerah juga aktif menjalin kerja sama strategis dengan berbagai lembaga internasional demi menarik minat investor global. Kemitraan tersebut mencakup pendampingan teknis serta pembukaan akses pasar yang lebih luas bagi komoditas unggulan Kutim.
“Untuk menjembatani hal tersebut, dukungan dari mitra internasional seperti GIZ (Jerman) dan pemerintah Swiss, melalui Sekretariat Urusan Ekonomi (SECO) dan berkolaborasi dengan Kementerian Federal Jerman untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), mendukung SUSTAIN KUTIM (Sustainable Landscape Initiative in Kutim) menjadi sangat krusial dalam membangun jaringan koneksi dengan investor dunia,” jelas Ardiansyah.
Upaya ini mencakup perlindungan area bernilai konservasi tinggi di sekitar lahan perkebunan. Pemkab Kutim menerapkan standar sertifikasi internasional guna memastikan produk sawit mampu menembus pasar Eropa yang sangat ketat terhadap isu lingkungan hidup serta keberlanjutan.
Data terkini menunjukkan sebaran potensi ekonomi di wilayah tersebut mencakup beberapa poin krusial berikut:
Luas perkebunan kelapa sawit mencapai 1,2 juta hektare.
Kapasitas pabrik pengolahan minyak sawit mentah meningkat signifikan.
Penyerapan tenaga kerja lokal pada sektor manufaktur mulai tumbuh.
Ardiansyah menambahkan bahwa keberadaan industri ini harus berjalan selaras dengan upaya konservasi alam di wilayah Kalimantan Timur. Fokus utama adalah mencegah kerusakan lingkungan akibat perluasan lahan perkebunan yang tidak terkontrol oleh oknum tidak bertanggung jawab.
“Langkah ini dianggap sebagai solusi cerdas untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan pelestarian paru-paru dunia, termasuk di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK),” ungkapnya saat menjelaskan peta jalan pembangunan hijau kepada para pemangku kepentingan setempat.
Pembangunan pabrik pengolahan minyak goreng dan biodiesel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) menjadi tulang punggung rencana ini. Infrastruktur pendukung seperti pelabuhan internasional dan akses jalan nasional mulai dioperasikan.
Realisasi investasi pada sektor manufaktur di Kutim mencatatkan tren positif pada kuartal pertama tahun ini. Pemerintah daerah kini memberikan berbagai kemudahan perizinan bagi perusahaan yang membangun fasilitas pengolahan produk akhir di dalam wilayah administrasi Sangatta.(*)

Social Footer