Breaking News

Kejar Selisih Harga Rp10 Ribu, Bupati Kepahiang Boyong Teknik Petik Merah Temanggung

(Foto:JATENGPROV)

Temanggung, GENKEBUN.COM – Bupati Kepahiang, Zurdi Nata, mengunjungi Kabupaten Temanggung untuk mempelajari teknik budidaya kopi modern pada Rabu (11/2/2026), guna mengejar selisih harga jual dan meningkatkan produktivitas komoditas unggulan di daerahnya.

Langkah ini diambil setelah melihat keberhasilan petani lokal Temanggung dalam mengelola kebun Robusta dan Arabika. Fokus utama kunjungan mencakup teknik penanaman bibit unggul, perawatan tanaman secara intensif, hingga standarisasi panen.

Bupati Zurdi mengamati secara langsung bagaimana petani di lereng gunung tersebut mengelola lahan mereka. Ia mengakui terdapat perbedaan mencolok pada sisi teknis yang selama ini diterapkan di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu.

“Tadi saya belajar banyak dari petani di sini. Ada perbedaan teknis dalam penanaman dan pengelolaan kopi di Temanggung, dibandingkan di Kepahiang,” ujar Zurdi, dikutip dari laman Jatengprov, Senin (23/02/2026).

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang berencana membawa pulang ilmu tersebut untuk mengubah pola pikir petani. Zurdi melihat potensi besar pada luas lahan miliknya yang belum tergarap secara maksimal dengan metode lama.

“Saya punya lahan itu 26 ribu hektare, tapi produksinya masih 19 ribu ton per tahun, sehingga untuk meningkatkan produksi kopi ini saya ingin edukasi kepada warga saya. Karena selama ini saya lihat rata-rata masih konvensional, dan nanti kita ke arah modern seperti yang dilakukan di Temanggung ini,” ungkapnya.

Perbandingan angka produksi menunjukkan efisiensi yang kontras antara kedua wilayah tersebut. Saat ini, rata-rata hasil panen di Kepahiang dinilai belum sebanding dengan total luas area perkebunan yang mencapai puluhan ribu hektare.

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Temanggung menyebutkan bahwa produktivitas kopi di wilayahnya mampu mencapai angka tinggi. Keberhasilan tersebut didorong oleh beberapa faktor teknis yang terintegrasi secara disiplin di lapangan:

  • Penggunaan bibit unggul bersertifikat.

  • Penerapan pemupukan terpadu dan pemangkasan rutin.

  • Pengendalian hama secara efektif.

  • Konsistensi teknik panen petik merah.

Kepala DKPPP Temanggung, Joko Budi Nuryanto, memberikan penjelasan mengenai kesamaan geografis kedua daerah yang seharusnya bisa menghasilkan kualitas serupa. Perbedaan hasil akhir justru terletak pada disiplin petani dalam melakukan perlakuan paska panen.

“Perbedaan utama adalah metode petik. Di sini sudah menggunakan petik merah, sementara di Kepahiang belum semuanya. Dari sisi harga, kopi petik merah bisa lebih dari Rp70 ribu per kilogram, sedangkan petik hijau sekitar Rp60 ribu per kilogram,” pungkasnya.

Secara teknis, produktivitas kopi Robusta dan Arabika di Temanggung tercatat berada pada kisaran 2,5 hingga 3 ton kopi basah per hektare. Capaian ini menjadi tolok ukur bagi modernisasi perkebunan kopi di Kepahiang.

Penerapan metode petik merah dan pengolahan paska panen yang tepat terbukti meningkatkan nilai ekonomis biji kopi secara signifikan. Kualitas produksi yang stabil menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan harga di pasar nasional.(*)

Type and hit Enter to search

Close