![]() |
| (Foto:Kementan.go.id) |
Jakarta, GENKEBUN.COM – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono melepas sepuluh truk bantuan logistik senilai Rp1 miliar guna membantu korban banjir bandang serta longsor di Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Bandung Barat pada Jumat (13/02/2026).
Pelepasan bantuan tersebut berlangsung di halaman kantor Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Penyaluran bantuan ini bertujuan memenuhi kebutuhan mendasar bagi para pengungsi yang berada di posko bencana.
Ketua Umum DPN HKTI tersebut menyatakan bahwa organisasi tersebut ingin menjamin bantuan yang dikirimkan tepat sasaran. Fokus utama adalah kecepatan distribusi logistik dasar untuk menolong warga yang kehilangan tempat tinggal sementara.
“HKTI ingin memastikan bantuan yang kami kirim benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga di lapangan. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat terdampak bisa segera terbantu, terutama untuk kebutuhan pangan dan logistik dasar,” ujar Sudaryono, dikutip dari laman Kementan, Jumat (13/02/2026).
Setelah mengirimkan bantuan darurat, Sudaryono memberikan keterangan mengenai rencana pemulihan jangka panjang bagi wilayah terdampak. Langkah ini mencakup rehabilitasi lahan pertanian yang mengalami kerusakan akibat terjangan air dan tumpukan material tanah.
“Setelah ini HKTI tidak berhenti di bantuan darurat. Kami akan ikut mengawal rehabilitasi pascabencana, termasuk penanaman kembali sawah yang rusak. Dari hasil peninjauan kami di lapangan, salah satu penyebab banjir dan longsor adalah lahan miring yang tidak ditopang tanaman keras,” cetus pria yang akrab disapa Mas Dar tersebut.
Berdasarkan data lapangan, banjir bandang di Pemalang menerjang sembilan desa yang tersebar di wilayah Kecamatan Pulosari dan Kecamatan Moga. Sementara di Bandung Barat, bantuan menyasar kebutuhan pangan, kesehatan, dan sektor pendidikan bagi siswa.
HKTI memberikan rincian bantuan yang dikirimkan ke lokasi bencana untuk mendukung aktivitas warga serta para pelajar agar tetap produktif:
Bahan pangan pokok, perlengkapan balita, lansia, dan obat-obatan ringan.
Perlengkapan darurat seperti jas hujan serta 100 paket alat tulis sekolah.
Terkait upaya mitigasi, Wamentan Sudaryono memaparkan rencana strategis mengenai penataan kembali pola tanam di area perbukitan. Beliau mengusulkan penggabungan tanaman keras dengan tanaman hortikultura demi menjaga stabilitas struktur tanah dari ancaman bencana.
“Kami akan mengawal penanaman tanaman keras di sela-sela tanaman hortikultura. Salah satunya kopi, karena cocok di dataran tinggi. Selain itu juga tanaman buah seperti durian dan kelengkeng yang akarnya dalam, sehingga bisa memperkuat tanah dan tetap memberi hasil ekonomi bagi petani,” ungkapnya.
Langkah teknis ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengelola sektor pertanian yang tangguh menghadapi perubahan cuaca ekstrem. HKTI bertindak sebagai mitra strategis dalam menjaga keberlangsungan lahan produktif serta meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
Rehabilitasi sawah rusak di Pemalang dan Bandung Barat dilakukan melalui pendampingan langsung kepada kelompok tani setempat. Penanaman tanaman keras dengan akar dalam menjadi prioritas utama guna meminimalisir risiko pergerakan tanah pada masa mendatang.(*)

Social Footer